Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Dua Lawan Satu (Ep 8)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Baca Cerita Dewasa Terupdate

Pagi itu Hani bergerak seperti mayat hidup di dalam rumahnya sendiri.

Payudaranya masih bengkak keunguan dan terasa panas berdenyut setiap kali ia mengangkat tangan.
Memeknya terasa longgar, perih, dan basah aneh.
Ia memasak sarapan untuk anak-anak dengan gerakan lambat dan hati-hati, sesekali menahan ringisan saat pinggulnya bergerak.
Rina, anak pertamanya yang berusia delapan tahun, menatap ibunya dengan mata polos yang penuh kekhawatiran.

Mulustrasi Hani

Me1Ej4Bm T

“Mama… Mama kenapa? Kok Mama bergerak pelan sekali? Sakit ya?”

Hani memaksakan senyum yang paling manis yang ia bisa, meski hatinya seperti diremas-remas.
Ia memeluk Rina, anak kedua, dan anak ketiganya satu per satu lebih lama dari biasanya.
Air matanya hampir jatuh saat mencium aroma rambut anak-anaknya.

“Maaf ya sayang-sayang Mama… Mama lagi banyak kerjaan. Tapi Mama sayang kalian semua. Sangat sayang…” bisiknya dengan suara serak.

Di dalam hatinya, Hani merasa ia adalah ibu paling kotor di dunia.
Sudah tidak layak lagi memeluk anak-anaknya dengan tangan yang sama yang pernah melayani nafsu atasannya.
Rasa bersalah itu begitu berat hingga ia hampir tidak bisa bernapas.

Hendra duduk di ujung meja makan tanpa bicara sepatah kata pun.
Tatapannya dingin, penuh kebencian dan kekecewaan yang dalam.
Hani tahu, rumah ini sudah bukan lagi pelindung baginya.

Hani berangkat kerja seperti mayat hidup.
Payudaranya masih bengkak keunguan akibat ikatan semalam, memeknya terasa panas dan perih setiap kali melangkah.
Ia hampir tidak bisa duduk dengan nyaman.

===============================

Siang harinya di gudang, Gatot memanggil Hani ke ruangannya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Begitu Hani masuk, Gatot langsung membaca kondisi tubuh dan wajahnya.
Dengan suara pelan tapi penuh ancaman, ia memaksa Hani menceritakan segalanya

“Cerita!!” perintahnya singkat.

Hani menangis pelan sambil menceritakan semuanya — tentang Hendra yang tahu, tentang hukuman semalam, tentang payudaranya yang diikat, semua siksaan Hendra.

Gatot tidak marah. Senyumnya justru semakin lebar, matanya penuh nafsu gelap yang mengerikan.

“Menarik sekali,” gumamnya. “Suamimu ternyata punya jiwa sadis juga.”

Siang itu Gatot tidak menyentuh Hani.
Ia hanya duduk di kursi, memerintahkan Hani berdiri di depannya dan mengangkat baju untuk “diperiksa”.
Selama hampir 30 menit, Gatot menghina tubuh Hani dengan kata-kata kasar,
memerintahnya membuka memeknya sendiri di depan meja, sambil merekam semuanya.

“Telpon suamimu, lalu loudspeaker”
“Bilang ke dia, dapet undangan ke rumah ku nanti malam untuk ngerjain kamu.”

Hani seketika terperangah mendapat perintah seperti itu dari Gatot.
Hani hanya bisa mengangguk lemah, air matanya jatuh tanpa sadar.
Ia terpaksa melakukannya, mengambil ponsel dan menelepon Hendra.

“Assalamualaikum..Mas, nanti malam datang ke rumah Tuang Gatot ya, bis ini ku kirim share loc nya”

Gatot merebut ponsel dan berbicara langsung pada Hendra.
mereka terlihat serius merencanakan hal jahat pada Hani.
Hendra akhirnya mengiyakan untuk datang.
Hani hanya bisa bergidik ngeri melihat Gatot berbicara lewat telepon dengan Suaminya.
ia tak dapat membayangkan hal mengerikan apalagi yang akan ia alami nanti malam.

Malam itu, rumah Gatot akan menjadi tempat penghancuran total bagi Hani.

Hendra datang dengan wajah tegang, penuh dendam.
Gatot menyambutnya seperti teman lama sambil membawa Beer.
Hani diperintahkan berlutut telanjang di depan kedua pria itu.

Sesi dimulai perlahan, Hani berlutut hanya memakai hijab dengan kedua tangan diangkat di belakang kepalanya.
Sebuah pose penyerahan diri total pada 2 pria yang penuh nafsu dan kegilaan

“Malam ini kita bagi-bagi istri mu,” kata Gatot santai. “Kamu boleh balas dendam sepuasnya.”

Sesi penghancuran dimulai.

“Mulai sekarang dirimu cuma peliharaan kami berdua.”

Hani menurut dengan tangan gemetar. Gatot memasangkan blidfold menutupi kedua matanya.
Begitu matanya ditutup total, dunia menjadi gelap.
Ia hanya bisa mendengar napas dua pria penuh nafsu di depannya.
1 orang pria yang sangat ia sayangi, 1 orang yang mengubah dan menghancurkan hidupnya.

Sesi dimulai dengan lambat, penuh penghinaan.

Gatot dan Hendra mengikat kedua tangan Hani ke belakang, lalu menggantungkannya dengan tali di tiang ruang tamu sehingga tubuh Hani menggantung.
Payudaranya yang sudah kendur diikat erat di pangkalnya hingga membengkak keunguan, seperti balon mau pecah.

“Ampunnn… sakit…” Rengek Hani kesakitan melihat payudaranya seperti mau pecah.
“Lihat ini, Bro?” kata Gatot sambil menepuk memek Hani keras. PLAK…PLAKKK
“Hasil karya ku ngerusakin Memek istri mu, bikin lubangnya kayak gini, HAHAHA…”

Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap dengan campuran amarah dan nafsu gelap.

Gatot melumuri tangannya dengan minyak, lalu memasukkan seluruh kepalan tangannya ke dalam memek Hani tanpa pemanasan.
Hani menjerit keras, tubuhnya kejang hebat.
“AAAAAHHH!!! SAKIIIIT!!! Tolong… lepasin!!”

Gatot tidak peduli. Ia memompa kepalan tangannya keluar-masuk dengan gerakan kasar dan dalam.
meregangkan dinding memek Hani yang menjijikkan itu.
Sementara itu Hendra memasukkan jari tangannya ke anus Hani yang masih sempit.
Hani merintih kesakitan merasakan jemari Hendra meyeruak ke dalam anusnya yang perawan.
“Pelan… sakit… tolong…” pinta Hani dengan suara pecah.

Tapi permohonannya justru membuat kedua pria itu semakin bersemangat.
Mereka berlomba lomba mempermainkan 2 lubang bawah Hani.
Tangan Gatot memfisting brutal, sementara Hendra mulai memasukkan 4 jarinya ke anus Hani tanpa ampun.

Hani merasakan sakit yang luar biasa, seolah organ dalamnya diregang dan dihancurkan.
Hani menangis histeris di balik blindfold, air liur menetes dari mulutnya.
Tapi di balik rasa sakit itu, ada sensasi aneh yang memalukan — tubuhnya mulai basah,
desahannya mulai bercampur antara tangisan dan kenikmatan paksa.

Mereka terus melakukannya berulang kali dengan brutal.
Berganti posisi, berganti lubang.
Memek dan anusnya tak henti dipermainkan dengan tangan dan jemari mereka berdua.
Hani merasa seperti boneka seks yang sedang dirobek dari dalam.
Setiap hantaman membuatnya menjerit, tubuhnya kejang.
air matanya mengalir membasahi hijabnya.

Gatot memaksa Hani mengucapkan kata-kata hina:
“Memek dan anusku milik kalian…” gumam Hani berulang-ulang

Hani mengulang kalimat itu berkali-kali dengan suara putus asa sambil kedua lubangnya terus dipermainkan dengan brutal.

Gatot tertawa sinis. “Lo memang hewan menjijikkan.”
Mereka melanjutkan dengan botol beer.
Gatot memasukkan botol beer kosong ke dalam memek Hani, mendorongnya masuk keluar dengan kasar.
Memeknya betul2 terasa seperti mau robek, rasa nikmat yang sempat dirasakan seketika sirna,
digantikan rasa nyeri dan panas yang membakar seiring pergerakan brutal botol itu di dalam memeknya.

Setiap hujaman botol menekan hingga ke dinding rahimnya, membuat matanya membelalak menahan sakit.
Setiap tarikan botol membuat bibir memek dan jenggernya tertarik keluar seakan ruh Hani ikut ketarik keluar.

Di anus ia merasakan sensasi perih dan panas yang tak kalah menyakitkan.
Anusnya mulai meregang hingga tangan Hendra mulai bisa masuk hingga pergelangan tangan.
Payudaranya di remas sekuat tenaga oleh Hendra hingga terlihat benar2 mau meletus.
“AAAAAHHH!!! SAKIIIIT!!!” teriak Hani

Puncak sesi adalah Hani di hujam dan di fisting pada memek dan anusnya secara bersamaan oleh tangan Gatot dan Hendra.
Sesi double fisting itu berlangsung cukup lama, berulang kali Hani hampir pingsan menahan sakit di kedua lubangnya.
Payudaranya berulang kali di remas brutal oleh keduanya Hingga Hani kepayahan dan terkulai lemas.

Di akhir sesi, mereka melepaskan Hani dari ikatan dan membaringkannya di lantai seperti hewan.
Gatot dan Hendra mengocok kontol mereka di depan tubuh Hani yang terkulai lemas dan hancur.
Mereka semakin bernafsu melihat pemandangan itu, hingga keduanya menyemburkan spermanya ke tubuh Hani.
Hani dijadikan tempat pembuangan sperma oleh mereka berdua malam itu.

Hani tergeletak di lantai seperti mayat.
Tubuhnya gemetar tak terkendali.
Matanya kosong menatap langit-langit.
Gatot berjongkok di depannya, mengusap pipinya dengan lembut.
“Buka mulutmu,” perintah Gatot.

Hani membuka mulutnya dengan patuh.
Tanpa aba aba Gatot mengencingi mulut Hani.
Bau dan rasa asin yang menyengat memenuhi tenggorokannya.
Ia terbatuk-batuk, tapi dipaksa menelan sebagian.
Hal itu dilanjutkan Hendra, ia mengencingi mulut lalu seluruh tubuh Hani.

“Minum kencing suami dan majikan lo, pelacur,” kata Hendra dengan suara bergetar.

Hani menangis tersedu di balik blindfold itu.
Rasa malu, jijik, dan kehancuran mentalnya sudah mencapai puncak.
Ia merasa benar-benar hancur.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment