Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Penaklukkan (Ep 3)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Cerita Dewasa Jilbab Terbaru

Sore itu, Gatot sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Setiap kali melihat Hani berjalan dengan hijab lebar dan pakaian sopan, setiap kali mencium aroma dan membayangkan tubuhnya, nafsunya semakin membara seperti api.

Ia punya fetish BDSM terhadap Hani. Ia ingin menyetubuhi paksa Hani, mengikatnya, melihatnya menangis, meronta, dan memohon.
Ingin menghancurkan kesucian dan harga dirinya sebagai istri sholehah. Ia ingin menjadikan Hani sebagai budak pemuas nafsunya. Sampai pada akhirnya malam itu, kesempatan yang ditunggu-tunggu datang.

Hujan deras mengguyur area sekitar gudang sejak sore. Listrik di gudang belakang padam, dan hanya tersisa lampu emergency yang redup.
Saat itu pukul 19.15 WIB. Aktivitas normal gudang hanya sampai jam 18.00 WIB, semua karayawan gudang sudah pulang. Gatot masih di ruangannya menyelesaikan report pertanggung jawaban bulanan ke manajemen.
Hani malam itu belum pulang, dia masih menunggu hujan reda. Gatot tau si Hani belum pulang setelah melihat CCTV ruangan Hani,
dia selalu memantau gerak gerik Hani setiap hari melalui kamera CCTV itu. Gatot melihat kesempatan malam ini sebagai takdir.
Segera Gatot memutar otak berpura pura butuh bantuan Hani dan memanggilnya ke ruangan.

“Han, tolong bantu aku cek stok di gudang belakang ya. Yang lain sudah pulang,” katanya dengan nada biasa.
Hani ragu sebentar, tapi karena sudah biasa membantu dan merasa sungkan pada Gatot, ia mengangguk. “Baik, Pak.”
Selama hampir 1 jam mereka bekerja sama. Malam itu pukul 20.15 Gatot semakin gelisah. Nafsunya sudah di ubun-ubun.
Gatot sudah mengunci pintu akses gudang belakang ke depan sedari tadi.

Mulustrasi Hani

Me1Ehic2 T

Saat Hani membungkuk untuk menghitung ban di rak bawah, Gatot tidak bisa menahan diri lagi. Ia mendekat dari belakang dan memeluk pinggang Hani erat.
“Pak! Apa-apaan ini?!” jerit Hani panik
“Lepaskan!!” Hani langsung berontak keras, sikunya menghantam perut Gatot.
Gatot mundur sedikit, tapi matanya semakin gelap. “Kesini kau Hani!!!.”
“Haniii… aku sudah tidak tahan lagi,” desis Gatot dengan suara parau. “Aku mau kamu. Sekarang.”

Hani berbalik cepat, wajahnya pucat ketakutan.
“Jangan, Pak! Saya sudah menikah! Punya tiga anak! Ini haram, dosa besar! Lepaskan saya sekarang juga!”
Semakin Hani melawan, semakin Gatot terangsang. Ia meraih tangan Hani dan memelintirnya ke belakang, mendorong tubuh Hani keras ke tumpukan palet kayu.

“Silakan kamu berontak… semakin kamu lawan, semakin kamu menderita,” desis Gatot dengan suara serak penuh nafsu.
Hani menjerit dan meronta sekuat tenaga. Ia menendang kaki Gatot dan berusaha mencakar wajahnya.
“Tolong!! Ada orang?! Tolonggg!!”
Gatot tertawa kasar. Ia menampar pipi Hani keras sekali hingga kepalanya tersentak
“Berisik!!” teriak Gatot
Dengan brutal, ia merobek kemeja Hani hingga kancing berhamburan. Payudara Hani terbungkus bra hitam yang dihiasi dengan renda cantik.
Gatot meremasnya dengan kasar, menamparnya keras beberapa kali, lalu mencengkeram leher Hani dengan satu tangan sambil membuka celananya sendiri.
“Jangan!! Sakit!! Astaghfirullah… lepasin!!”
1 tarikan kuat membuat bra itu terputus dan menampakkan aset kebanggaan Hani yang selama ini ia jaga.
Sepasang payudara kendur dengan puting cokelat kehitaman, sebuah bukti nyata perjuangan menyusui 3 anaknya
“Asu, Tete mu item ya Han, kendur pula!” ketus Gatot menghina Hani
Semakin Hani meronta dan menangis, semakin Gatot menjadi liar. Ia menarik hijab Hani hingga longgar
mencengkeram rambutnya, lalu menampar payudaranya berulang kali hingga memerah.

“Kamu pikir dirimu suci? kamu sudah minum pejuhku berbulan-bulan, pelacur!”
“Sekarang kamu akan merasakan Pejuku langsung dari sumbernya…HAHAHAHAHAHA….” Gatot tertawa kesetanan.
Dengan brutal, Gatot menurunkan celana panjang Hani sampai mata kaki, merobek celana dalamnya dengan kasar.
Celana dalam hani berhamburan menampakkan pemandangan yang membuat Gatot terpana
Memek Hani berwarna gelap, berbulu tipis, berjengger kehitaman menyambutnya.
Jengger itu terlihat seperti kerang atau siput yang merekah, bukti perjuangan seorang wanita bertaruh nyawa melahirkan darah dagingnya hingga 3 kali.

“Jelek amat memek lu, Han, padahal muka & tubuhmu cantik lho”, ejek Gatot melihat memek hani yang menurutnya jelek dan menjijikkan
Gatot menyentuh memek berjengger Hani dengan penuh nafsu, memainkan dan mengobelnya sambil melumat bibir Hani.
Melihat memek Hani yang bentuknya jelek malah semakin membuat Gatot bernafsu, dalam pikirnya tanpa ragu ia akan mengacak acak memek yang sudah jelek itu. Tanpa pemanasan sama sekali, Gatot mengarahkan kontolnya yang tebal dan keras, lalu menghantamkannya sekuat tenaga.
“JLEBB!!!”
Akhirnya, dengan satu hantaman kuat, kontol Gatot yang tebal memaksa masuk ke memek Hani yang masih kering itu, dan sesuai dugaan memek jelek itu langsung menelan kontolnya dengan mudah.

“AAAAAHHH!!! SAKIIIIT!!! Tolong… tolong lepaskan!!!” jerit Hani pecah, air matanya mengalir deras.
Hani tak menyangka ia akan diperkosa oleh orang yang selama ini ia hormati dan anggap berjasa bagi hidup dan karirnya.
Gatot melumat bibir Hani sambil menghujamkan kontolnya dalam-dalam. Memek Hani yang sudah longgar pun dengan mudah di genjotnya.

“Ini memek ato jalan tol??? Dasar Lonte!!!” hina Gatot
Meskipun memek Hani longgar namun ternyata masih cukup memberikan kenikmatan bagi kontol Gatot.
Ia mengerang nikmat. Ia memegang pinggul Hani kuat-kuat dan menggenjotnya tanpa ampun.
Setiap kali Hani mencoba meronta, ia mencekik lehernya lebih keras atau menampar payudaranya.
Hani merasakan panas di memeknya yang kering, sakit sesakit harga diri dan perasaannya di nodai oleh orang yang selama ini ia hormati.

Mulustrasi Hani

Me1Ehicf T

Gatot mengambil tali plastik yang biasa digunakan untuk mengikat Ban yang ada di dekatnya, lalu mengikat kedua pergelangan tangan Hani dan mengangkatnya ke atas kepala.
Ia menahan tangan Hani yang terikat itu dengan tangan kekarnya.
Gatot menyetubuhi Hani di atas tumpukan palet di pojok belakang gudang yang pengap,
bau menyengat Ban sama sekali tidak menyurutkan nafsunya untuk menyetubuhi wanita yang selama ini Ia fantasikan.
Ia terus menghujam brutal, mempercepat irama sambil mencengkeram hijab Hani, ia berulang kali merapikan hijabnya karena baginya Hani terlihat sangat menarik ketika berhijab. Hani akhirnya kehabisan tenaga. Tubuhnya terkapar seperti mayat, matanya kosong, dan mulutnya hanya mengeluarkan isakan lemah, sesekali erangan nikmat.

“Sudah menyerah?” tanya Gatot sambil terus menggoyang pinggulnya dalam-dalam.

Hani tidak menjawab lagi. Hanya air mata yang terus mengalir.

“Mulai sekarang kamu adalah pelacurku, Han. Kamu akan ku entot tiap kali aku mau. Mengerti?!”
“Kamu akan datang padaku tiap hari untuk memohon kontolku”
“Memohon agar memek mu yang najis itu ku entot dengan brutal”
Hani terpaksa mengangguk tanda setuju, ia berpikir lebih baik setuju daripada semakin disiksa Gatot malam ini.
Dia cuma berharap Gatot segera selesai.
Dengan brutal Gatot memukul payudara Hani berulang kali, mencubit puting gelapnya dengan kasar, dan menghujam memeknya yang longgar tanpa ampun dengan berbagai posisi.

Pukul 21.50 WIB setelah berjam jam Gatot menyetubuhi paksa tubuh Hani. Gatot merasa ada sesuatu yang mau meledak dari dalam kontolnya.
Hani merasakan kontol Gatot semakin menegang dan keras, ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Jangan Pak, jangan disitu, aku Mohonnn…” Hani merengek agar Gatot tidak keluar di dalam.
Ia tau bisa jadi saat ini masa suburnya, jika sampe hamil bagaimana ia menjelaskan ke suaminya.
Ia pun tak sudi mengandung benih haram Gatot. Tapi tentu saja Gatot tidak peduli sama sekali.

“Ahhh…ahhh, Haniii, admin Asu!!!” Gatot meracau nikmat saat kontolnya meledak,
CROTTT…CROTTT…CROTTT…
menyemburkan sperma panasnya bekali kali ke dalam memek Hani.
Sambil mencengkeram dan menarik kedua payudara kendur Hani dengan sekuat tenaga.
Hani hanya bisa menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar hebat, batin Hani menolak, tp tubuhnya tidak bisa bohong,
Hani pun klimaks saat itu juga bersamaan dengan semburan pejuh Gatot di rahimnya.

Gatot bangkit lalu meludahi Hani, “Cuih, akhirnya dapet juga ni si admin Lonte” umpatnya.
Hani terkapar di atas palet dengan tangan terikat erat, hijabnya kusut, pakaian robek,
memeknya perih dan mengeluarkan lelehan sperma Gatot, atasan yang selama ini ia hormati.
Samar samar lelehan itu bercampur noda merah darah akibat persetubuhan terlalu brutal itu
Gatot berjongkok di depannya, mengangkat dagu Hani yang sudah tak berdaya.

“Sekarang tubuhmu milikku, Han. Mengerti?”

Hani hanya bisa mengangguk dan menangis tanpa suara. Hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment