Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Awal Kegilaan (Ep 1)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Cerita Seks Terbaru Indonesia

Pukul 07.45 pagi, udara gudang ban masih terasa dingin dan bercampur bau karet.
Suara forklift sudah mulai ramai di kejauhan.
Hani berjalan menyusuri lorong dengan langkah ringan.
Hijab lebar berwarna krem menutupi dada dan bahunya,
rok panjang abu-abu serta kemeja putih longgar yang selalu rapi dikancing hingga leher.

“Pagi, mba Hani,” sapa seorang karyawan gudang.
“Pagi, Pak,” balas Hani dengan senyum lembut dan santun.
Di ruangan manajer, Gatot duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil menyesap kopi hitam.
Matanya tidak lepas dari layar CCTV yang menampilkan Hani sedang memeriksa daftar stok di komputer.
Tak lama kemudian Hani mengetuk pintu.
“Masuk,” kata Gatot.

Gatot adalah manajer Gudang berusia 42 tahun, cukup muda, perawakan besar dengan kulit sawo matang cenderung gelap, wajah yang biasa saja
Hani membuka pintu dan tersenyum sopan.
“Pak, laporan stok ban Michel*n ukuran 120/70 14 sudah saya update. Ada selisih 2 pcs dari pengiriman kemarin.”
Gatot tersenyum lebar, matanya menelusuri wajah manis Hani yang kulitnya sawo matang dan terlihat lembut.
“Bagus sekali, Han. Kamu memang selalu teliti.
Duduk dulu sini, aku mau bicara sebentar.”
Hani duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan.
Gatot memperhatikan gerak-geriknya yang sangat santun,
dada yang naik-turun pelan di balik kemeja, pinggang ramping, dan bibir tipis yang selalu bicara dengan nada lembut.

“Udah hampir tiga tahun ya kamu di sini, Han?” tanya Gatot santai.
“Iya, Pak. Alhamdulillah.”
“Suami kamu masih di Indoapril?”
“Masih, Pak. Jadwalnya sering malam.”


Gatot mengangguk pelan.
Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan tubuh Hani yang sudah tiga kali melahirkan normal.
Dadanya yang penuh tapi kendur karena menyusui, pinggulnya yang melebar, dan vaginanya yang pernah meregang lebar saat melahirkan anak-anaknya.
“Kamu sering lembur sendirian akhir-akhir ini. Kalau capek atau ada apa-apa, bilang saja ke aku ya. Jangan sungkan,” kata Gatot dengan nada ramah dan santai.
“Terima kasih, Pak. Biasa saja kok,” jawab Hani malu-malu.
Sepanjang pagi itu Gatot terus mencuri pandang.
Setiap kali Hani membungkuk mengambil map di rak bawah,
matanya langsung tertuju ke bokong Hani yang montok di balik rok panjang.
Setiap kali Hani menyesap kopinya, Gatot merasakan penisnya mengeras di dalam celana.

Siang harinya, saat Hani sedang makan siang di ruangan kecil admin, Gatot datang membawa segelas jus jeruk dingin.
“Ini, Han. Aku beli tadi, biar segar.
Kerja terus jangan sampai dehidrasi,” katanya sambil tersenyum.

Hani menerima gelas itu dengan senyum tulus.

“Wah, makasih banyak, Pak Gatot. Bapak perhatian sekali.”

Gatot tersenyum dalam hati. Tadi pagi sebelum Hani datang, ia sudah memasukkan sperma segarnya ke dalam jus itu.
Sudah hampir enam minggu ia melakukannya secara rutin.
kadang dicampur ke kopi Hani, kadang ke minumannya, kadang ke makanan kecil yang ditinggalkannya di meja.

Malam harinya, di rumahnya, Gatot mengunci pintu kamar.
Ia membuka folder rahasia di ponsel berisi foto-foto Hani yang diambil diam-diam.
Foto Hani sedang membungkuk, tersenyum, bahkan foto Hani sedang menunduk sholat di mushola kantor.
Gatot menggenggam penisnya yang sudah keras maksimal, mengocoknya dengan kasar dan cepat sambil membayangkan wajah lugu
Hani yang setiap hari tanpa sadar menelan sperma darinya.

“Suatu saat aku akan dapatkan kamu, Hani…” desisnya parau, suaranya penuh nafsu gelap.
“Aku akan hancurkan kesucianmu, agamamu, dan kesetiaanmu pada suami brengsek itu.

Aku akan buat kamu jadi pelacurku bertahun-tahun.”
Gerakan tangannya semakin cepat dan brutal.
Bayangan Hani berlutut di depannya dengan hijab masih terpasang, mulutnya penuh air mani,
dan air mata mengalir di pipi sawo matangnya membuat Gatot semakin liar.
Akhirnya ia mencapai klimaks dengan desahan keras, menyemburkan sperma banyak ke tisu sambil tersenyum puas.

Ini baru permulaan.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment