Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Permainan Dimulai (Ep 5)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Baca Cerita Seks Hijab Terbaru

Malam berikutnya, Gatot mengirim pesan singkat ke Hani:
“Malam ini ke Rumahku. Jam 19.00 WIB sudah di sana.
Kalau telat atau ga datang, videomu bakal ku kirim ke suamimu.”

Hani menutup mulutnya sendiri agar tangisannya tidak terdengar. Air matanya perlahan jatuh ke lantai.
Mentalnya hancur berkeping-keping. Ia tak tau harus gimana, takut bercerita ke suaminya. Takut semuanya hancur.
Bayangannya rumah tangga yang Ia cintai akan hancur jika suaminya tau, dia terlalu malu untuk bercerita.
Namun ia juga tak rela jika harus jadi budak seks Gatot.

Ia akhirnya memutuskan datang meski tau segala resikonya, ia berbohong kepada suaminya lewat telepon, suaranya bergetar:
“Mas… malam ini aku lembur mendadak di gudang. Mungkin pulang sangat malam. Anak-anak tolong jaga ya…”
Suaminya mengiyakan tanpa curiga.
Kata-kata “Iya, hati-hati ya Sayang” itu terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.

Pukul 19.00 WIB tepat, Hani sudah berdiri di depan pintu Rumah Gatot yang mewah.
Rumah Gatot ini berada di kawasan perumahan elit, terletak di bagian belakang di ujung gang buntu, sehingga secara lokasi sangat tenang dan jauh dari kebisingan.
Hal ini juga sebaliknya, jika di rumah itu ada kebisingan atau keramaian, tetangga atau lingkungan mustahil bisa mendengar, menjadikan lokasi rumah Gatot sangat tepat untuk mengeksekusi Hani malam itu.
Begitu pintu terbuka, Gatot langsung mempersilakan Hani, budak seksnya untuk masuk dan mengunci pintu.

“Bagus. datang juga,” kata Gatot sambil tersenyum sinis yang membuat Hani merinding.

Hani berdiri di tengah ruangan mewah itu, hijab lebarnya masih rapi, pakaian kerjanya sopan.
Matanya sembab. Suaranya hampir hilang saat berbisik:

“Pak… saya mohon… anak-anak saya masih kecil…”

Gatot menampar pipinya keras.
“Mulai sekarang panggil aku ‘Tuan’. Dan kamu harus menikmati.
Kalau kelihatan terpaksa atau cengeng, hukumannya akan lebih berat. Paham?”

Hani menunduk. Air matanya jatuh. “…Baik, Tuan.”
Malam itu akan menjadi neraka sekaligus penyerahan total bagi Hani.
Gatot tanpa ragu akan melampiaskan fantasi BDSM nya selama ini ke Hani.

Gatot memerintahkan Hani mandi dan bersih2. Setelah mandi Hani hanya boleh memakai hijab, tanpa busana lain.
Hani menurut dengan tangan gemetar. Begitu keluar kamar mandi, Gatot sudah menunggu dengan tali dan cambuk kecil di tangan.

Mulustrasi Hani

Me1Eiyfl T

Pertama, Gatot mengikat tangan Hani ke belakang punggung dengan tali.
Ia membungkukkan tubuh Hani di atas meja makan marmer dapur yang dingin.
Posisi nungging itu membuat bokong dan memek Hani terbuka sempurna.

Gatot tidak langsung menyetubuhinya. Ia berdiri di belakang, mengusap punggung Hani pelan sambil berbisik:
“Kamu tahu, sebenarnya memekmu terlalu longgar untuk memuaskanku. Dasar pelacur murahan,” Hina Gatot,
sambil memasukkan jemarinya ke dalam memek berjengger dan longgar punya Hani
Tanpa aba aba ia memasukkan 4 jarinya sekaligus, “JLEEBBB” dengan mudahnya jari jari Gatot di telan memek Hani.

“Berharap memek kaya gini bisa muasin aku???aku akan buat kamu merasakan apa artinya jadi budak seks yang sebenarnya.”

Hani hanya diam dan nurut di hina dan di rendahkan oleh Gatot, namun batinnya hancur, dia tau memeknya sudah tak serapat dulu waktu masih Gadis, ia pun tau

Suaminya juga sering pura pura menikmati persetubuhan mereka.
Setelah melahirkan anak ke 3 memek Hani emang berubah drastis, jengger yang dulu tak ada sekarang mendominasi tampilan memek Hani.
Bibir labia nya pun tak lagi kemerahan namun gelap menghitam.
Walau begitu Hani selama ini menjaga kesucian memeknya hanya untuk suaminya, dia tak pernah mengizinkan lelaki manapun menikmati tubuh dan memeknya.
dia sama sekali tak menyangka bahwa memeknya akan dinodai oleh atasan yang ia kagumi dan hormati seperti saat ini.

Gatot memainkan jarinya lalu memasukkan semua jari hingga pergelangan tangannya
“SLOPP…SLOPP…SLOPP…SLOPP…” bunyi memek Hani yang mulai becek
“Suamimu puas dengan memek kaya gini Han??” Hina Gatot
Tanpa Hani sadari Gatot mengambil sebuah alat bantu pria berupa Mainan Memek dari silikon berukuran cukup besar yang sering di sebut FleshLight.

Gatot mengolesi fleshlight itu dengan pelumas, lalu perlahan mendorongnya masuk ke dalam memek Hani yang sudah melar, sangat perlahan, sambil mengamati setiap reaksi wajah Hani dari cermin di depan meja.
Hani menggigit bibir kuat-kuat, air matanya mengalir.

“Apa ini pak???” tanya Hani seiring ia merasakan sebuah benda lembut namun besar memasukin liang peranakannya.
Rasa penuh yang asing membuatnya gemetar. Memeknya dipaksa merenggang diluar batas kemampuannya.
Hani merintih pelan, napasnya tersengal.
Ada rasa sakit, ada rasa penuh yang aneh, dan… sedikit sensasi yang membuat perut bawahnya panas.

============

Hani berusaha berontak saat Fleshlight itu masuk semakin dalam mengisi paksa setiap relung dan rongga memeknya yang longgar itu.
Ukuran Fleshlight itu lebih besar dari kapasitas renggangan maksimal yang pernah dicapai memek Hani selama ini.
Hani kesakitan, tubuhnya menggelinjang ke kiri ke kanan hingga Gatot melakukan dorongan terakhir dengan kepalan Tangan,

“JLEEEEBBB” Fleshlight itu masuk tertelan sempurna oleh Memek Hani yang berjengger.
Tubuh Hani menggelinjang saat Fleshlight besar itu masuk penuh ke dalam memeknya.

Ilustrasi Fleshlight Terpasang

Me1Eihaq T

“Nah kalo kaya gini kan cakep” Gatot mundur sedikit sambil memperhatikan hasil karyanya.
Terlihat Hani menungging dengan Fleshlight besar itu menancap dari belakang memenuhi memeknya.
Terlihat ujung FleshLight silicon berwarna putih menyembul dari lubang memeknya yang meregang menyedihkan,
jengger hitamnya mengitari Fleshlight itu. Di tengah2 Fleshlight besar itu sebuah lubang rapat terlihat.
Lubang inilah yang akan digunakan Gatot untuk memuaskan hasratnya.

Setelah fleshlight terpasang sempurna, Gatot memasukkan kontolnya ke dalam fleshlight itu,
Sensasi ketat dan hangat langsung membuatnya mengerang nikmat. Posisi tubuh Hani nungging diatas meja marmer.
“Ahhhh..ini baru memek gadis” erang Gatot dengan suara parau.

Gatot menghujam dengan irama yang sengaja diatur, kadang pelan dan dalam, kadang cepat dan pendek.
Setiap hujaman membuat fleshlight besar itu bergeser di dalam rongga memek Hani,
memaksa memeknya semakin meregang dan menekan titik2 sensitif yang selama ini belum pernah tersentuh.

Hani berusaha keras menahan suara, tapi lama-kelamaan desahan kecil keluar dari mulutnya.
Rasa sakit bercampur nikmat yang berlomba lomba
Mentalnya semakin hancur melihat dirinya sendiri di cermin perlahan “menikmati” permainan ini.

“Astaghfirullah… Tuan… ini dosa besar…aahhh..sshhh”
Baru kali ini Hani merasakan memeknya dimasuki benda yang sangat besar, hujaman kontol Gatot menggerakkan Fleshlight itu di rongga memeknya,
akhirnya ia tak kuasa menolak rasa nikmat itu dengan sesekali mendesah

“Ahhh…Ahhh..terus Tuan”

Gatot menarik hijab Hani seperti tali kekang, memaksa kepalanya mendongak.

“Desah lebih keras. Katakan kamu menikmati jadi pelacur Tuanmu.”

Hani mendesah lebih sensual sambil air matanya mengalir,
“Ahh… Tuan… enak… memek saya milik Tuan…”

Setiap kali ia terdengar kurang meyakinkan mendesah, Gatot menghentikan gerakannya dan menempelkan vibrator kecil di klitoris Hani
hingga Hani hampir gila karena sensasi yang tak diinginkan. Ia memaksa Hani orgasme berkali-kali sambil terus menghina dirinya.

“Si lonte keenakan…HAHAHAHAH”, Gatot tertawa puas melihat Hani mulai menikmati persetubuhan tak lazim itu.
“Kamu lihat? Tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu yang suci itu.”

Gatot membalik posisi Hani sehingga ia telentang, mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi,
Gatot melanjutkan penetrasi yang lebih dalam ke Fleshlight yang terpasang di memek menjijikkan Hani.
Ia mencekik leher Hani dengan tekanan yang pas. Cukup membuat Hani merasa tercekik, namun tidak meninggalkan bekas.

“Aku mau kamu hamil. Aku mau perutmu berisi benih ku” bisik Gatot sambil tertawa pelan.
Hani menangis tersedu. Rasa malu, jijik, dan kenikmatan bercampur aduk di dalam dirinya.
Ia benci dirinya sendiri karena tubuhnya bereaksi terhadap kenikmatan paksa ini.

Berjam jam, Gatot menyetubuhi Hani dan berganti posisi berkali-kali — di sofa, di lantai, di ranjang, Hani disetubuhi layaknya binatang.
Hingga akhirnya Gatot kembali merasakan sensasi sesuatu yang mau meledak dari dalam kontolnya.

“Ahhh…Lonteeee!!!” Gatot meracau nikmat saat kontolnya meledak
menyemburkan sperma panasnya bekali kali ke dalam lubang sempit Fleshlight di memek Hani.
Dia ejakulasi sambil mencengkeram dan menarik puting payudara kendur Hani sekuat tenaga,
hingga hani berteriak kesakitan,

“AAAAAHHH!!! SAKIIIIT!!!”

Cengkeraman Fleshlight itu terasa nikmat bagi kontol Gatot dibanding memek asli Hani yang menjijikkan itu.
Gatot memerintahkan Hani mengisap dan membersihkan kontolnya yang belepotan pejuh hingga bersih.
Sesekali Hani tersedak akibat kontol itu masuk terlalu dalam di tenggorokannya.

Pukul 23.55 WIB, Hani sudah tak berdaya. Tubuhnya terkapar lemas telentang di lantai dengan kondisi penuh peluh keringat,
memeknya terlihat memerah dengan Fleshlight menyembul miring akibat hujaman brutal Gatot berjam jam.
Cairan sperma putih berbusa tak henti meleleh dari lubangnya.

Gatot menarik Fleshlight itu dari memek Hani dengan satu tarikan cepat.
“SLOPPPPP…!!!”

Tubuh Hani menggelinjang lemah karena sudah kehabisan tenaga.
Rongga menganga lebar terlihat jelas di bagian bawah tubuh Hani, bagian tubuh yang saat ini tidak pantas disebut memek

“Bagus sekali malam ini, Han. Kamu mulai pandai melayani. Terus seperti ini, dan aku akan jaga rahasia kita selamanya.”

Hani hanya mengangguk lemah. Suaranya nyaris hilang.

“Ya… Tuan…”

Di dalam hatinya, ia sudah tidak lagi tahu mana yang lebih menyakitkan — rasa sakit fisik,
atau rasa hancur yang semakin dalam setiap kali ia dipaksa menikmati penghinaan ini.

Mental Hani sudah benar-benar hancur. Memek suci nya rusak ternodai.
Yang tersisa hanyalah ketakutan, kepatuhan, dan sedikit kenikmatan terlarang
yang membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment