Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Penyerahan Diri (Ep 4)
Bokep Cerita Seks Terbaru Indonesia
Setelah kejadian malam itu keesokan paginya, Hani datang berangkat kerja dengan wajah pucat dan langkah yang berat. Memar di pipinya ditutupi bedak tebal, dan setiap gerakannya terasa sakit. Memeknya masih perih dan bengkak, payudaranya sedikit memar biru di balik bra, dan tubuhnya terasa remuk.
Ia belum bercerita kepada siapa pun.
Suaminya tadi malam pulang larut dan langsung tidur. Anak-anaknya masih kecil. Hani takut kalau cerita, suaminya malah menyalahkannya atau rumah tangganya hancur. Ia juga takut ke polisi. Apa buktinya? Siapa yang akan percaya seorang admin gudang yang santun dituduh memfitnah atasannya?
Jadi pagi itu ia datang kerja seperti biasa, meski hatinya kacau balau.
“Pagi, Hani,” sapa Gatot dari ruangannya dengan nada biasa, seolah-olah malam tadi tidak terjadi apa-apa.
Hani tersentak. Tubuhnya menegang. Ia menunduk cepat. “Pagi, Pak…”
Suara Hani kecil sekali. Ia berusaha menghindari kontak mata dan langsung duduk di meja kerjanya. Sepanjang pagi ia bekerja dengan cemas. Setiap kali Gatot lewat di dekatnya, ia mundur sedikit dan memeluk tubuhnya sendiri. Ia semakin hati-hati, bahkan takut ke toilet sendirian.
Gatot memperhatikan semua itu dengan senyum dalam hati. Ia senang melihat Hani ketakutan. Itu justru membuat nafsunya semakin membara.
Siang harinya, saat gudang sepi, Gatot memanggil Hani ke ruangannya.
“Han, ke ruangan sebentar.” Gatot memanggilnya
Hani ragu lama di depan pintu, tapi akhirnya masuk dengan kepala tertunduk. Tangannya gemetar.
Gatot berdiri, mendekati Hani pelan. Hani mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.
“Takut ya?” tanya Gatot sambil tersenyum tipis. Ia mengangkat dagu Hani paksa. “Bagus. Kamu harus takut. Tapi ingat, kalau kamu cerita ke siapa pun, suami, keluarga, atau polisi… aku akan hancurkan semuanya. Aku punya rekaman video kita semalam. Mau liat?”
Hani menggeleng cepat, air mata langsung menggenang. “Jangan, Pak… saya mohon…”
Gatot mendekatkan wajahnya hingga napasnya menyentuh bibir Hani.
“Mulai sekarang kamu adalah budakku. kamu akan datang ke sini setiap kali aku panggil. kamu akan buka memek mu tanpa protes. Perlahan kamu akan terima takdir itu dengan sukarela.”
Hani hanya diam sambil menangis pelan. Ia bingung harus berbuat apa. Melapor ke siapa? HRD? Suami? Semua rasanya akan menghancurkan hidupnya.
“Duduk sini Han” perintah Gatot kepada Hani
Sebuah kursi sudah di siapkan Gatot di depan sebuah tripod dengan Iphone Gatot terpasang di holdernnya.
Gatot berencana membuat video pengakuan Hani, penyerahan diri dia sepenuhnya untuk menjadi Budak Seks yang siap melayani Gatot setiap dibutuhkan.
“Aku mau kamu duduk tepat di depan kamera, pegang dan tunjukin KTP mu lalu berbicara apa yang ku perintahkan. paham???”, perintah Gatot
“SSS..Saya harus ngapain, pak?” tanya Hani dengan suara bergetar.
Udah kamu ngomong aja depan kamera, kaya sedang live“, kata Gatot sambil memberikan kertas berisi tulisan ke Hani
Hani menerima kertas itu dan membacanya, dia bergidik ngeri tak percaya. Di kertas itu tertulis apa yang mesti Hani katakan saat di rekam oleh Gatot. Berikut isi kertas itu.
“Saya, Hanifah Murmayanti, seorang istri dan ibu dari tiga anak, saya berusia 28 tahun, Hari ini, Kamis 16 Juli 2026 dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati menyerahkan diri saya sepenuhnya kepada Tuan Gatot.
Mulai saat ini, tubuh saya bukan lagi milik saya, suami saya, atau anak-anak saya. Tubuh ini adalah milik Tuan Gatot sepenuhnya, sebagai alat seks, mainan, dan budak rendahan yang siap digunakan kapan saja sesuai kehendak Tuan Gatot.
Tuan Gatot boleh memuaskan nafsu dengan lubang-lubang yang saya miliki, memukul, menyiksa, mempermalukan, atau menggunakan saya sebagai pelampiasan paling sadis sekalipun. Saya tidak punya hak menolak.
Saya hanya lubang dalam segumpal daging, hanya budak menjijikan yang pantas dihina, dicaci, dan diperlakukan seperti sampah.
Saya menyerahkan segalanya: tubuh, harga diri, dan martabat saya.
Silakan gunakan saya sesuka hati Tuan Gatot.
Saya adalah budak seks Tuan Gatot. Selamanya.”
“Udah kamu pahami?” tanya Gatot
Hani mengangguk berat, dia tak percaya dipaksa mengucapkan semua itu dan menyerahkan dirinya. Dia paham setiap konsekuensi dari kalimat2 di teks yang akan dia baca.
Ya sudah mari kita mulai, rapihin pakaian dulu, duduk close up depan kamera, sodorin KTP mu, Han” Perintah Gatot.
Perekaman pun dimulai, kurang lebih setengah jam termasuk dengan revisi take ulang hingga Gatot bilang cukup.
“Video ini sebagai jaminan dan bukti sah kamu jadi Budak Seks dan pelayanku”
“Jika suatu saat kamu membangkang, sudah dipastikan video ini akan tersebar luas, paham?!!”, ancam Gatot
Tubuh Hani bergetar, ia terpaksa menunduk menyetujui, dia tak tau lagi harus bagaimana.
Ia takut mengadu ke suami, Ia cukup malu mengadu ke polisi karena takut video kemarin tersebar luas.
Sementara itu, di dalam kepala Gatot, rencana yang lebih brutal sudah tersusun.
Ia berniat akan menyetubuhi Hani lagi dan lagi. Dengan cara brutal yang tak terpikirkan oleh orang nomral. Ia ingin mengikat Hani, mencambuknya dengan sabuk, memasukkan benda-benda asing ke memek longgarnya, memaksa Hani mengisap kontolnya hingga ke tenggorokannya, dan perlahan menghancurkan mentalnya hingga Hani sendiri yang memohon kontolnya.
Gator berniat mendokumentasikan setiap persetubuhan dan sesi BDSM itu, untuk dia gunakan sebagai senjata jika Hani membangkang.
“Pulanglah sekarang,” kata Gatot lembut sambil mengusap pipi Hani, isyarat Gatot penuh ancaman. “Besok malam kita mulai.”
Hani keluar dari ruangan Gatot dengan langkah gontai. Di dalam hatinya ia berdoa berulang-ulang, tapi rasa takut dan malu membuatnya lumpuh.
Malam itu, di rumah, Hani sholat sambil menangis meratapi nasibnya, tak henti ia berdoa untuk keselamatannya, berharap yang telah dialaminya hanya mimpi.
Sementara Gatot di rumahnya sedang mempersiapkan “mainan” baru yang akan ia bawa besok untuk menyiksa tubuh Hani
Ia tersenyum puas.
