Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Tak Ada Lagi Tempat Pulang (Ep 7)
Cerita Bokep Perkosaan Terbaru
Malam itu hujan deras turun kembali, seolah langit ikut menangisi nasib Hani.
Di rumah kecil mereka, suami Hani — Hendra — sudah lama menahan hasrat.
Sudah hampir sebulan Hani selalu menolak halus setiap kali ia mendekat.
Malam ini Hendra tidak mau ditolak lagi.
“Han… aku kangen sama kamu,” bisik Hendra sambil memeluk Hani dari belakang di kasur.
Tangannya merayap ke payudara istrinya.
Hani menegang. Tubuhnya langsung dingin. “Mas… aku capek banget hari ini.”
“Tapi sudah lama sekali, Han. Cuma sebentar ya…” Hendra memohon, suaranya penuh kerinduan.
Hani terus berusaha menghindar dan menolak, namun Hendra tidak menyerah.
Hendra mendekap tubuh Hani lalu melumat bibirnya dengan lembut dan penuh kasing sayang.
Akhirnya Hani menyerah, ia pun menyambut ciuman suaminya dengan lembut.
Ia takut kalau menolak terus, suaminya akan semakin curiga.
Dengan berat hati, ia membiarkan Hendra mencumbu dan perlahan menelanjanginya.
Foreplay berjalan dengan penuh gairah, Hendra benar2 merindukan kehangatan istri sholehah tercintanya.
Saat Hendra hendak memasukkan kontolnya, wajah Hani memucat.
Jemari Hendra menyentuh memek Hani dan mengobelnya, yang ternyata sudah mulai becek.
Hendra cukup mahir memainkan jemarinya sehingga membuat tubuh Hani segera bereaksi.
Erangan nikmat Hani perlahan terdengar
“Mmmhh…AHHHH”
Tiba saat nya Hendra mengarahkan rudal kebanggaannya di depan gerbang peranakan Hani yang berjengger itu.
Tanpa ragu ia memasukkan Kontol berukuran sedang miliknya
Memek Hani terasa sangat longgar. Hendra yang biasanya merasakan kehangatan dan kelembutan memek istrinya.
Namun kali ini ia merasa seperti masuk ke ruang kosong.
Ia mengerutkan kening, mencoba beberapa kali dengan gerakan lebih dalam.
Hani menggeser tubuhnya meraih kontol hendra dan membantunya memasukkan ke dalam liang peranakannya.
“Han… kenapa… rasanya berbeda sekali?” gumam Hendra bingung.
Hani menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan air mata.
Tapi saat Hendra mulai bergerak lebih cepat, kenangan malam-malam bersama Gatot meluap tak terkendali.
Di tengah desahan lembutnya, tanpa sadar ia berbisik pelan:
“Tuan Gatot… pelan…”
Hendra langsung membeku.
“Apa yang kamu bilang barusan?!” suaranya naik drastis.
Ia menarik tubuh Hani kasar hingga duduk menghadapnya.
Hani tersadar terlambat. Wajahnya pucat pasi. “Mas… bukan…maksudku…”
“Ulangi! Kamu bilang apa tadi?!” bentak Hendra, matanya memerah penuh amarah dan kekecewaan.
Hani menangis tersedu. Akhirnya, setelah didesak berulang kali dan diancam, ia mengakui semuanya dengan suara terbata-bata.
Tentang Gatot yang memaksanya, tentang berbulan-bulan ia melayani atasannya,
tentang bagaimana tubuhnya sudah dipaksa melayani diluar batas kemampuan wajar seorang manusia.
Hendra terdiam. Wajahnya berubah dari marah menjadi kecewa mendalam.
Matanya terlihat berkaca kaca
“Kamu… istriku… ibu dari anak-anakku… tega melakukan ini di belakangku?”
Air mata Hani tak terbendung mengalir melihat ekspresi suaminya yang kecewa dengannya
“Maaf Mas, aku terpaksa..” suara Hani terdengar lirih
Hendra tidak kuasa mendengar kenyataan pahit itu.
Ia sangat menyayangi Hani, namun saat ini ia benar2 telah kecewa.
Rasa sakit hatinya terlalu besar. Ia terdiam cukup lama seakan tak mau menerima takdir itu
Tiba tiba ia terpikirkan suatu hal. Hal yang mungkin dapat mengobati rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
Ia ingin memberi “pelajaran” agar Hani merasakan apa yang ia rasakan.
Dengan dingin Ia memalingkan muka, bangkit dari ranjang meninggalkan tubuh menjijikkan istrinya.
Dia ke gudang mengambil seikat tali panjang yang akan digunakan untuk memberi pelajaran Hani.
Ia kembali ke kamar dengan tatapan dingin.
Hani ketakutan melihat tatapan suaminya dan apa yang dibawanya.
Hendra mendekati Hani tanpa ekspresi seolah pemandangan di depannya merupakan hal yang menjijikkan.
“Mas kamu mau ngapain dengan tali ituuu…” tanya Hani
Dengan dingin, ia meraih tangan istrinya dan membentak,
“DIAMM..NURUT GA!!!” bentak Hendra.
Ia membaringkan tubuh Hani di atas ranjang. ia menindih perut nya dengan lututnya agar tidak berontak.
Ia meraih payudara Hani yang kendur lalu mengikat payudara itu menggunakan tali yang telah diambilnya.
Ia mulai dari payudara sebelah kiri terlebih dulu, Ia mengikatnya sangat erat dibagian pangkal mengitari payudara kirinya
lalu berlanjut ke payudara kananya.
Ia mengikatkan tali itu berulang hingga kedua payudara Hani membengkak seperti balon.
Hani meringis kesakitan, tapi tidak berani berteriak karena takut anak-anak terbangun.
Ilustrasi Payudara Hani Terikat

Tak lama ikatan itu berubah warna merah keunguan, akibat pembuluh darah yang berhenti dan menumpuk.
Payudara Hani terlihat seperti balon yang mau pecah
“Mas… sakit… lepasin…” Hani memohon
Hendra tidak peduli.
Ia mengambil botol sirup marj*n dari dapur, melumurinya dengan minyak goreng, lalu memasukkannya perlahan ke dalam memek Hani yang menjijikkan itu.
Ia mendorongnya masuk ke dalam dengan gerakan lambat tapi dalam, sambil menatap istrinya dengan mata penuh luka.
“Lubang ini ga pantas di sebut memek!!!” bentak Hendra sambil terus mendorong botol Marjan itu masuk semakin dalam.
Hani hanya bisa menangis sesenggukan. Rasa sakit di ikatan payudaranya yang membengkak dan di memeknya berlomba lomba menyerang otaknya.
Pandangannya kabur berkunang kunang.
“Mmhh…AHHHH… Sakit maaasss…”
Botol itu hanya bisa masuk setengah, Hendra terlihat kesulitan mendorongnya masuk lebih dalam lagi.
Ekspresi Hani sudah tak karuan, matanya memutih, ia menggigit bibir menahan sakit.
Tanpa pikir panjang Hendra menggerakkan tangannya dengan gerakan memukul.
Ia memukul botol itu agar bisa masuk lebih dalam.
“JLebb…”
Botol itu kembali masuk dengan lancar.
Tubuh Hani mengejang kesakitan beberapa detik akibat botol yang dipaksa masuk sangat dalam hingga menyentuh rahimnya.
Akhirnya Hani menyerah, tubuhnya tak mampu menahan rasa sakit itu
ia pingsan di atas ranjang yang seharusnya jadi tempat ternyaman baginya.
Rasa amarah dan kecewa telah membutakan Hendra.
Ia terus memainkan botol itu di dalam memek hani selama hampir satu jam
sambil beberapa kali meremas ikatan payudara Hani yang sudah membulat keunguan.
Setiap remasan membuat ikatan payudara itu semakin berwarna gelap hingga seperti mau pecah.
Sesi itu berlangsung hampir 1 jam hingga perlahan Hani akhirnya mulai tersadar kembali dari pingsannya.
Hani membuka mata dan tak percaya melihat aset payudaranya yang sudah tidak berbentuk dan berwarna ungu gelap, lalu kembali menangis.
“Mas..ampuni aku…” pinta Hani
“Tubuhmu sudah bukan milikku lagi…sudah rusak.” Hendra berada di sampingnya menatap dengan tatapan kecewa dan kosong
Ia sedang mengocok kontolnya sambil menikmati pemandangan tubuh Hani yang tersiksa seperti mainan baginya.
Pemandangan itu dengan aneh menyihirnya, membakar nafsunya.
Ia mencapai klimaks menyemburkan spermanya ke payudara Hani yang hampir meletus.
“AHHHH…BAJINGAN!!”” Umpat Hendra kepada Hani saat dia mencapai puncaknya.
“Kamu bukan istriku lagi. Kamu cuma pelacur.”
Hendra segera bangkit meninggalkan tubuh Hani yang masih terikat payudaranya.
Botol marjan itupun masih berdiam di dalam memek Hani.
Hani meringkuk di kasur, menangis tanpa suara sepanjang malam.
Payudaranya terasa panas dan berdenyut-denyut. Memeknya perih.
Tapi yang paling sakit adalah perasaan dan mentalnya.
Mentalnya semakin hancur.
Kini ia merasa dirinya memang hanya pemuas nafsu.
Baik untuk Gatot maupun untuk suaminya.
Tubuhnya semakin hancur, payudaranya tak berbentuk
memeknya merasakan nyeri dan panas teramat hebat.
Ia menyadari bahwa dirinya sudah tidak punya tempat untuk pulang lagi.
Selamanya….

