Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Senyum Kosong Sang Ibu Hina (Ep 12)
Cerita Seks Ibu Terbaru
Malam mengerikan itu berakhir dengan penuh trauma bagi Hani.
Tubuh Hani terkapar seperti bangkai dengan kondisi mengenaskan.
Puting kirinya putus dengan darah mengalir membasahi meja kerja besi itu.
Dia pingsan dengan mata terbelalak putih dengan busa di rongga mulutnya.
Tukang las itu memanggil Gatot dan Hendra.
“Mas, sudah selesai, ambil tuh barangmu…” kata pria itu
Gatot dan Hendra lalu masuk ke tempat eksekusi yang berbau anyir, bau karat besi, bau pesing dan kotoran Hani.
“Gila lu bro..!! Dia masih hidup kan??” tanya Gatot pada pria itu.
“Barusan kuliat masih napas kok..” jawabnya santai.
“Hen, ayo angkat bareng, bawa ke mobil,” Ajak Getot pada Hendra
“Thanks ya bro hiburanya, hahaha..”
“Sorry kalo barang mu jadi rusak..” kata pria itu sebelum Gatot dan Hendra berpamitan.
Hani dimasukkan ke mobil, dari memek dan anusnya masih mengeluarkan sisa sisa kotoran dan kencing yang sangat bau.
“Anjing, si lonte bau amat” ketus Gatot
Dalam perjalanan sesekali terlihat Gerakan lemah dari Hani.
Syukurlah ia masih hidup.
Hani dibawa pulang ke rumah Gatot.
Disana tubuhnya di bersihkan seperti hewan yang di jagal.
Tubuhnya digantung pada gantungan besi di pekarangan belakang rumah Gatot, tangan terikat keatas menahan beban tubuhnya.
Hani di semprot menggunakan selang air dingin.
Hendra membersihkan tubuh Hani dengan seksama.
Darah sudah berhenti mengalir dari luka di putingnya.
Memperlihatkan payudara yang saat ini tidak memiliki puting, terlihat luka robek berwarna putih pucat.
Setelah tubuh Hani dibersihkan ia di letakkan di sebuah kamar kosong.
Hendra lalu pulang, karena pagi pagi harus mengurus anak anaknya.
Ia harus mencari alas an dan menjelaskan pada mereka tentang kemana Hani pergi.
=======================
Hani tergeletak di ranjang kamar itu, tubuhnya tak lagi gemetar.
Napasnya mulai teratur.
Perlahan ia mulai tersadar. Rasa nyeri di sekujur tubuh.
Di memek dan anusnya ia merasakan rasa panas.
DI puting kirinya ia merasakan linu, panas yang teramat sangat.
Ia berteriak histeris meliat puting kirinya telah hilang.
“TIDAAAAKKKKK….!!!!!” Teriaknya pilu
Ia lalu menangis, air mata mengalir deras.
Luka di putting kirinya di biarkan begitu saja oleh Gatot, hanya di bersihkan.
Terlihat daging payudara berwarna putih pucat pada luka itu.
Gatot masuk ke kamar setelah mendengar teriakan Hani
Ia mendekatinya, menatap dingin tanpa ekspresi.
Ia memegang dagu Hani, memaksa wajahnya menengadah.
“Sudah bangun???” Tanyanya dengan nada ketus.
Mata Hani kosong, tapi masih bisa fokus.
Di wajah Gatot ia melihat kemenangan yang tenang.
Wajah atasan yang selama ini ia kagumi dan hormati kini telah menghancurkan hidupnya.
Gatot menelepon Hendra, dan memberi kabar.
“Lonte kita uda sadar” bisiknya.
“Kesini kalo mau nengokin…”
Hendra mengiyakan dari ujung telpon yang lain.
—
Beberapa hari kemudian tubuh Hani sudah mulai pulih kembali.
Rasa memar, nyeri di selangkangannya sudah tak lagi terasa.
Luka di puting kirinya juga sudah mengering, memperlihatkan ketimpangan yang terlihat antara payudara kanan dan kiri.
Payudaranya terlihat semakin mengendur, yang kiri lebih kendur dibanding payudara kanan.
Hani memakai gamis dan hijabnya yang sudah di cuci oleh Gatot.
Gerakan tubuhnya lambat, kaku, seperti boneka yang sendinya sudah rusak.
Saat ia berdiri, lututnya terlihat masih gemetar. Langkahnya kikuk.
Malam itu Hani diantarkan pulang ke rumah, bertemu dengan keluarganya.
Di perjalanan pulang, mobil Gatot sunyi.
Hanya deru mesin dan desis AC.
Hani duduk di bangku penumpang, menatap keluar jendela.
Lampu jalanan berlalu seperti bayangan hantu.
Di kepalanya, suara Gatot masih bergema:
“Sekarang kamu benar-benar milik aku.”
Dan yang lebih menyakitkan lagi—suara Hendra yang diam.
Suami yang dulu memeluknya setiap malam, yang dulu bilang “kamu milikku saja,” kini telah ikut merobeknya dari dalam.
Sesampainya di rumah, anak-anak sudah tidur.
Hani berjalan pelan ke kamar mandi. Ia mengunci pintu, lalu duduk di lantai di depan kloset.
Air hangat dari shower mengalir di tubuhnya, tapi ia tidak berdiri.
Ia hanya duduk di sana, membiarkan air membasahi wajah, dada, dan selangkangannya yang masih terbuka dan perih.
Tangannya naik meraba ke payudara kirinya yang tidak lagi memiliki puting.
Jari-jarinya menyentuh kulit payudara yang kendur dan sangat turun, berusaha mengangkatnya, seolah ingin memperbaiki payudaranya yang sudah tak lagi indah.
Payudara yang sudah tak bisa Kembali seperti dulu.
Tangannya lalu turun meraba memek yang longgar.
Ia memasukkan dua jari, lalu tiga, hingga pergelangan tangannya, merasakan betapa mudahnya tangannya masuk ke memeknya.
Tidak ada lagi keketatan.
Hanya lubang yang sudah terlalu sering dipakai.
Begitu pula dengan anusnya, tiga jarinya masuk relatif mudah.
Air matanya kembali jatuh, bercampur dengan air shower.
“Tubuhku sudah hancur…” bisiknya pelan
“Rina… Mama sudah kotor. Mama sudah rusak.”
Ia membayangkan wajah anak perempuannya yang polos.
Pelukan kecil di pinggangnya.
Pertanyaan “Mama kenapa sedih?” yang menusuk lebih dalam daripada kontol mana pun yang telah menyetubuhinya.
Rasa bersalah itu lebih pedih daripada rasa sakit fisik.
Ia ingin mati.
Tapi bahkan kematian terasa terlalu mewah untuk seseorang yang sudah menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada dua lelaki yang memakainya bergantian.
—
Pagi berikutnya, rumah kembali terasa seperti kuburan.
Hani memasak sarapan dengan gerakan yang lebih lambat dari kemarin.
Setiap kali ia membungkuk, anus dan memeknya berdenyut nyeri.
Puting kirinya juga masih terasa perih.
Ia hanya memberikan obat merah dan perban seadanya.
Hendra tidak memberikan cukup uang untuk Hani berobat.
Hani masih menahan sakit yang teramat sangat.
Rina kembali datang, memeluk pinggangnya.
“Mama masih sedih?”
Hani berlutut di depan anaknya.
Ia memeluk Rina erat-erat, mencium rambutnya yang masih berbau sampo anak-anak.
Bau kesucian yang sudah tak lagi ia miliki.
“Mama sayang kamu,” bisiknya, suaranya pecah.
“Lebih dari apa pun di dunia ini. Jangan pernah lupa itu, ya?”
Rina mengangguk, bingung.
Hani mencium keningnya lama sekali, seolah ingin menanamkan rasa sayang itu ke dalam tulang anaknya.
Sebelum semuanya benar-benar hancur.
Hendra duduk di meja makan. Kali ini ia menatap Hani.
Bukan dengan kekecewaan murni seperti kemarin, melainkan dengan campuran rasa bersalah dan sesuatu yang lebih gelap.
Ia sudah melihat istrinya dihancurkan.
Bahkan Ia ikut andil menghancurkannya.
Dan di suatu sudut hatinya yang paling kotor, ia ingin melihatnya lagi.
Ponsel Hani bergetar di ruang tamu.
Hani membuka Pesan dari Gatot:
“Siang ini ke gudang. Aku mau cek seberapa rusak dirimu sekarang.”
“Kalau suami mu mau ikut nonton, Iyain aja.”
Hani menatap layar itu lama.
Jari-jarinya gemetar.
Ia ingin membalas “tidak.” Ingin berteriak “cukup”.
Ingin lari.
Tapi di dalam dadanya, hanya ada kekosongan yang sudah menerima.
Ia mengetik satu kata.
“Baik Tuan..”
Lalu ia mengirimnya.
Di meja makan, Hendra memperhatikan wajah istrinya yang pucat.
Ia tahu pesan itu dari siapa.
Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, ia tersenyum tipis—senyum yang dingin, dan gelap.
Hani bangkit dari lantai dapur.
Ia mencium anak-anaknya sekali lagi, lebih lama, lebih putus asa.
Kemudian ia pergi ke kamar, membuka lemari, dan memilih pakaian longgar yang akan dikenakannya untuk menghadap pemilik sesungguhnya tubuhnya.
Menjelang siang ia keluar rumah, matahari menyengat wajahnya.
Tapi di dalam dirinya, semuanya sudah gelap.
Ia berjalan menuju mobil taxi online yang sudah dipesannya, menuju gudang, menuju Gatot.
Dan di belakangnya, Hendra berdiri di ambang pintu, menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
Ia tidak memanggilnya kembali.
