Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Game and Challenge 2 (Ep 10)
Baca Cerita Dewasa Terbaru Indonesia
Sesi pertama dan kedua telah berakhir.
Hani cukup kuwalahan, gamis berwarna sagenya terkoyak dan mulai terlihat lusuh.
Hijab bergo symbol kehormatannya pun sudah berantakan.
Hani baru saja keluar dari gudang kosong dengan langkah sempoyongan.
Memek dan anusnya masih terasa panas dan penuh cairan.
Ia berusaha berjalan kembali ke mobil Hendra yang parkir agak jauh, kepalanya tertunduk dalam.
Tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkeram lengannya keras.
“Eh, mau ke mana Mba?”
Seorang pria bertubuh besar dan gemuk, tinggi sekitar 175 cm, bau alkohol menyengat, menyergap Hani dari belakang.
Matanya merah karena mabuk berat. Ia ternyata sedari tadi mengamati persetubuhan Hani dengan Security di dalam gudang.
“Abis ngapain tadi Mba di dalaem situ..??”tanya nya dengan suara parau.
“Seru banget ngewenya tadi kulihat..”
“Mba uda pro banget yaaa…?” ejek pria itu
Hani tersentak ketakutan. “Mas… lepasin… saya mau pulang…”
Pria mabuk itu malah tertawa kasar.
Ia mencium bau sperma yang khas dari tubuh Hani yang acak acakan.
“Wah…masih bau kontol, pelacur jalanan ya?.” tanya pria itu lagi
Ia tidak memberi Hani kesempatan bicara.
Dengan kasar ia menyeret Hani ke sebuah gubuk reyot di pinggir sungai yang gelap dan sepi.
Gubuk itu biasa dipakai para pemabuk untuk buang air dan tidur.
Bau amis sungai bercampur kencing dan sampah terasa menyengat.
Hani meronta pelan.
“Mas… saya mohon… jangan… saya sudah capek… sakit…”
Tapi pria itu tidak mendengar. Ia mendorong tubuh Hani ke gubuk hingga tersungkur di lantai bambu yang kotor.
“Aku juga mau Mba!” pria itu mulai melepas celananya.
Hani mencoba melawan, ia menendang pria itu sekuat tenaga
Pria itu tersungkur lalu bangkit dan terlihat ia semakin marah dan beringas.
“Sini pelacur!!!” bentaknya sambil meraih kaki Hani dan menyeretnya mendekat
Tubuh Hani terseret dan kini tepat di depannya, ia terlihat sangat ketakutan.
Pria itu merobek bagian Bawah gamis Hani dan tercengang melihat pemandangan di baliknya.
“ASU..jelek amat memekmu…HAHAHA…” ejek pria itu.
Ia mengangkangkan kedua paha Hani dengan paksa, mengamati pemandangan memek Hani yang masih becek dengan sperma 2 pria sebelumnya.
Jenggernya terlihat menyembul tak beraturan.
Beberapa saat pria mabuk itu mengamati memek Hani, sepertinya ia tidak tertarik dengan memek Hani.
Matanya tertuju pada anus Hani yang keliatan lebih menggoda.
“Anus aja deh.. Jijik banget liat memekmu…” ketusnya
“Ampun mas, pelan saja, sakit..” rengek Hani
Tanpa pelumas, tanpa pemanasan, pria bertubuh besar itu langsung menindih Hani dari belakang.
Ia memaksa kontolnya yang besar dan berurat masuk ke anus Hani yang masih perih dari sesi sebelumnya.
“AAARRRGHHH!!! SAKIIIIT!!! MAS… TOLONG…!!!” jerit Hani pilu.
Hani menghela nafas nya, ia merasakan rasa nyeri hebat dan panas dari anusnya.
Rasa nyeri robek akibat di paksa menelan benda tumpul dengan diameter besar.
Pria itu mengerang nikmat.
“Enak… anus lo sempit meski sudah rusak. kapan lagi dapet pantat bini orang, HAHAHAHA.”
Ia mulai menghujam kasar anus Hani tanpa ampun.
Setiap dorongan bagi Hani terasa sangat kuat dan dalam.
Tubuh Hani bergoyang keras di lantai bambu yang kasar.
Pria mabuk itu mencekik leher Hani dengan kasar sambil terus menggoyang pinggulnya brutal.
“MMhhh…MMhhhh!!!” Hani kepayahan kesulitan nafas.
“Bilang! Lo ini apa?!” bentak pria itu sambil menampar bokong Hani keras.
PLAKK…PLAKK…PLAKK…
“Saya… saya pelacur…aaahh!!” Hani menrintih pelan
Tanpa sadar desahan Hani keluar dari mulutnya, mengkhianati pikiran dan harga dirinya.
Pria itu semakin gila mendengarnya.
Ia membalik tubuh Hani dengan posisi doggy.
Menarik kedua tangan Hani ke belakang seperti kendali kuda, membuat payudara kendur Hani terangkat dan bergoyang goyang.
Kontolnya terus menghujam anus Hani tanpa henti.
Sesekali ia meludah ke lubang itu untuk “pelumas” tambahan, tapi tetap terasa sangat kasar.
“Nikmat banget anus binor, HAHAHAH..” ejeknya sambil tertawa mabuk.
“Sudah berapa kali dientot malam ini?!!”
Hani merasakan sensasi aneh akibat rasa penuh di anusnya.
Rasa sakit berpadu dengan kenikmatan yang saling berlomba.
Rasa sakitnya luar biasa.
Namun kenikmatan yang ditimbulkan juga tak kalah hebat.
Ia akhirnya mencapai orgasme nya.
“AHHHHH….ampuunnn…”
Tubuh Hani mengejang hebat saat orgasme.
“Keluar juga pelacur…” ejek pria itu
Pria itu sama sekali tidak memberikan jeda bagi Hani.
Ia terus memompa dengan brutal Anus Hani hingga memerah.
Sesi sodomi itu berlangsung lama.
Hampir 50 menit pria mabuk itu terus mengentot anus Hani tanpa henti.
Ia berganti posisi berkali-kali, doggy, missionary sambil mencekik leher Hani, bahkan menyetubuhinya Hanisambil berdiri.
Akhirnya, dengan erangan keras seperti binatang.
Pria itu menyemburkan sperma panasnya ke dalam anuss Hani.
“ASSUUU…ENAAAKKKK!!!” erang pria itu dengan suara parau
CROTT..CROTT..CROTT..CROTT..
Rasa hangat diiringi hujaman kuat pria itu memaksa Hani mengalami orgasme yang kedua.
“Ahhhhh….tidaaak” erang Hani
Hani tak mampu menahan gejolak nikmat yang Kembali mengkhianati akal sehatnya.
Mereka berdua mengalami klimaks bersamaan.
Pria itu lalu mencabut kontolnya
Memaksa Hani membersihkan kontolnya yang kotor dengan mulut.
Terlihat kontol itu berbusa putih dengan sedikit noda cokelat kehijauan.
“Jilat pelacur, buruan..”
“Jilat tai mu sendiri, HAHAHAHA…” perintah pria itu.
Hani menolak membersihkan kontol itu.
Namun tanpa aba2, pria itu menarik kepala Hani sehinnga kontolnya melesak paksa ke dalam mulutnya.
Bau kotoran membuat Hani seketika mual.
Pria itu segera menekan kepala hani dalam2 hingga kontolnya menyentuk kerongkongan Hani.
Menggenjot mulutnya dan memaksa Hani menjilati kontol itu hingga bersih.
“Glkk…glekkk…”
Hani melakukannya sambil menangis tersedu.
Pria itu lalu pergi meninggalkan Hani yang tergeletak lemas di lantai gubuk kotor.
Anusnya menganga, mengeluarkan sperma yang bercampur kotorannya sendiri.
Hani menatap langit-langit gubuk itu dengan mata kosong.
Ia berbisik pelan dengan suara yang hampir hilang:
“Ya Tuhan… sampai kapan aku akan seperti ini…?”
Rasa sakit, kehinaan, dan sedikit kenikmatan terlarang yang semakin menggerogoti jiwanya.
Ia pingsan kelelahan di gubug itu.
===================================
Hani masih tergeletak lemas di lantai gubuk ketika sesosok pria terlihat mendekat.
Seorang tukang ojek online berusia sekitar 35 tahun menghampiri Hani yang tergeletak di gubuk itu
Pria itu habis buang air kecil.
Ia terkejut melihat seorang perempuan berhijab tergeletak di lantai dengan pakaian acak-acakan, wajah sembab, dan tubuh penuh cairan lengket berwarna keputihan.
“Mba… kamu kenapa?!” tanyanya panik, mendekat cepat.
Hani seketika mengangkat wajahnya dengan susah payah.
Ia baru saja tersadar dari pingsannya.
Matanya sayu, suaranya lemah sekali.
“Mas… tolong… bantu saya…”
Pria itu segera mendekat hendak menolong Hani.
Ia kasihan melihat kondisi Hani yang acak acakan.
Wajah Hani yang manis, kulit sawo matang.
Gamis dan hijab membuatnya terlihat seperti ibu rumah tangga baik-baik korban rudakpaksa.
Tapi saat mata pria itu turun mengamati detail tubuh Hani — payudara yang kendur, memek dan anus yang menganga mengeluarkan sperma.
Nafsu pria itu seketika bangkit dengan hebat.
Kecantikan dan tubuh Hani yang sudah rusak justru membuatnya terangsang.
“Maaf Mba… Aku… Aku ga bisa,” gumamnya dengan suara parau.
“Mba cantik banget sih..”
Ia mendekat, lalu tiba-tiba berubah sikap.
Rasa kasihan berubah menjadi nafsu binatang.
“Cantik sekali kamu Mba, sini sama Mas..” katanya sambil meremas payudara Hani kasar.
Hani sudah tak mampu melawan.
Ia sudah tak punya tenaga.
Tubuhnya gemetar lemah.
“Ampun mass, jangaannn”
“saya sudah tidak kuat…”
Pria itu tidak mempedulikan.
Ia langsung menindih tubuh Hani di lantai gubuk yang kotor.
Dengan brutal ia merobek sisa Gamis Hani, lalu menggigit dan menghisap payudara Hani dengan rakus.
“Tetemu kendur amat mbaa.. Pasti sudah sering diremas ya?” ejeknya sambil menjepit kedua puting Hani kuat-kuat dan menariknya hingga Hani meringis kesakitan.
Ia memainkan kasar payudara Hani dengan tangan besarnya — meremas, menampar, menggigit, dan memelintirnya tanpa ampun.
Payudara yang sudah bengkak dari sesi sebelumnya semakin membiru.
“Mas… sakit…pelan…” pinta Hani dengan suara hampir hilang.
“Pelacur seperti mu memang pantas disakiti,” balas pria itu sambil tertawa.
“Cantik, berhijab, tapi lonteeee” ejeknya
Ia membuka celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah mengeras sedari tadi,
lalu langsung menghujam memek Hani yang sudah sangat basah itu.
Hujaman pertamanya sangat kuat hingga tubuh Hani tersentak.
Hani hanya bisa mendesah lemah.
Matanya mulai berkunang-kunang, hampir pingsan kembali.
Ia tidak melawan sama sekali, hanya pasrah seperti boneka.
Pria itu terus mengentot Hani dengan brutal sambil terus melecehkannya dengan kata-kata.
“Memek mu longgar banget Mba.. Berapa kontol yang sudah nyicipin malam ini? Lima? Enam?”
Ia menampar payudara Hani berulang kali sambil menghujam memeknya tanpa henti.
Sesekali ia menjambak hijab Hani dan menariknya ke belakang.
Hampir 40 menit pria itu menguasai tubuh Hani.
Ia berganti posisi berkali-kali, memaksa Hani menungging, duduk di pangkuannya,
dan bahkan berdiri sambil mengangkat satu kaki Hani.
Memek dan Anus Hani kembali menjadi bulan bulanan pria yang sama sekali tak dikenalnya.
Setiap gerakan penuh kekuatan dan nafsu yang tidak terkendali.
Di akhir sesi, Pria itu menyemburkan spermanya ke dalam memek Hani sambil mengerang keras.
“AAHHHH KELUAAARRRR…!!!!” Erangnya menikmati setiap semburan spermanya ke memek Hani
Ia mendorong tubuh Hani hingga tersungkur.
Seakan sudah tak ada gunanya lagi.
Ia berdiri menarik napas.
Hani tergeletak lemas, hampir tak sadarkan diri.
Dengan suara lemah dan gemetar, Hani mengulurkan tangan ke arah pria itu.
“Mas… uangnya… dua ribu… tolong…”
Pria itu terdiam sebentar, lalu tertawa sinis.
Ia mengeluarkan dua lembar uang seribu dan melemparkannya ke wajah Hani.
“Ini. Ambil Mba…”
Ia pergi meninggalkan Hani sendirian di gubuk reyot itu.
Hani menggenggam uang itu dengan tangan gemetar.
Air matanya mengalir pelan.
Ia meratapi nasibnya dan sesekali teringat ketiga anak yang sangat ia sayangi.
