Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Akhir Penderitaan (Ep 14)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Baca Cerita Dewasa Jilbab Terupdate

Musim hujan datang lebih awal tahun itu.
Langit kota selalu kelabu, dan Hani merasa tubuhnya ikut meleleh bersama hujan yang tak pernah berhenti.

Ia sudah bukan lagi istri. Bukan pula lagi perempuan.
Ia hanya sebuah benda yang masih bernapas—benda yang bisa disewa, dipinjam, dipakai, lalu dikembalikan dalam keadaan lebih rusak.
Gatot jarang menyentuhnya sendiri sekarang.
Ia lebih suka menonton dari jauh, atau bahkan tidak menonton sama sekali.
Hani terkenal di dunia gelap bawah yang hina.
Setiap minggu Ia melayani pria pria lapar, menjadi barang sewaan murah.

Mereka datang bergantian.
Sopir truk yang bau solar dan keringat.
Kuli pasar yang tangannya kasar penuh kapalan.
Preman pasar yang suka menggigit sampai berdarah.
Pengepul sampah yang membawa bau busuk ke dalam kamar sempit sewaan.
Mereka semua sudah tahu ciri khasnya. Mereka mencari puting kiri yang buntung itu seperti orang mencari tanda pengenal.
Mereka menarik, memelintir, menggigit, sampai Hani menjerit dan orgasme di saat yang sama.
Hanya rasa sakit yang masih bisa membuatnya mencapai puncak.
Kenikmatan biasa sudah mati di dalam tubuhnya.

Yang tersisa hanyalah kecanduan akut pada kehancuran.

Suatu malam, di sebuah gudang tua di pinggir kota, lima orang pria bergantian memakainya.
Mereka mengikatnya di tiang besi, memukul payudaranya sampai puting buntung itu mengeluarkan darah lagi, lalu memaksa benda-benda kotor masuk ke dalam tubuhnya.
Hani orgasme sambil menangis. Air matanya bercampur liur.
Ketika mereka selesai dan meninggalkannya tergeletak di lantai beton yang dingin, Hani hanya tersenyum tipis.

Kesehatan mulai mengkhianatinya perlahan.

Infeksi mulai datang berulang.
Demam tinggi yang membuatnya sering menggigil di malam hari.
Nyeri kronis di perut bawah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Berat badannya mulai turun drastis.
Wajahnya pucat, mata cekung, tapi setiap pagi ia tetap bangun.
Ia tetap memasak bubur untuk anak-anak.
Ia tetap tersenyum ketika adik-adiknya berlari memeluk kakinya.

Hendra melihat semuanya, tapi diam.
Ia sudah terlalu dalam ikut serta. Tak ada penyesalan di wajahanya.
Ia menerima uang yang sesekali Gatot berikan “sebagai bagian.”
Ia memalingkan muka setiap kali Hani pulang dengan tubuh penuh memar baru.
Di dalam hatinya yang sudah mati, ia hanya bisa berbisik,

“Tolong jangan mati dulu…anak-anak masih kecil.”

Suatu sore, Hani pingsan di dapur.

Rina yang menemukan ibunya tergeletak di lantai, panci masih menyala di kompor.
Anak itu berteriak memanggil ayahnya. Hendra membawa Hani ke klinik terdekat.
Dokter yang memeriksa hanya menggeleng.
Tubuhnya sudah terlalu lemah. Organ dalamnya sudah terlalu sering dipaksa.
Infeksi sudah menyebar.

“Istrimu harus istirahat total,” kata dokter.
“Kalau tidak, Saya tak yakin dia akan mampu bertahan..”

Hani membuka mata pelan.
Ia melihat wajah Rina yang basah oleh air mata.
Ia melihat dua adiknya berdiri di pintu, takut. Ia tersenyum—senyum yang sama seperti senyum kosong yang selalu ia pakai setelah disiksa.

“Mama hanya capek,” bisiknya.

“Mama akan baik-baik saja.”

Malam itu, ketika anak-anak tertidur, Hani meminta Hendra mendekat.
Suaranya hampir tak terdengar.

“Kalau nanti Aku mati…tolong jaga mereka. Jangan biarkan mereka tahu apa pun tentang semua ini.”
“Biarkan mereka ingat Aku sebagai ibu yang selalu memeluk, yang selalu bilang sayang.”

Hendra hanya mengangguk, air matanya jatuh untuk pertama kali setelah sekian lama.
“Iya Han…” jawab Hendra

Minggu-minggu terakhir berlalu seperti embun yang menguap.

Hani masih dipanggil sesekali. Tubuhnya sudah sangat lemah, tapi ia tetap pergi.
Gatot tidak peduli. Pelanggan juga tidak peduli.
Mereka tetap menggunakan tubuh Hani untuk melampiaskan nafsu mereka.
Hani tetap dipaksa orgasme. dan tetap tersenyum setelahnya.

Sampai suatu malam, di sebuah kamar kontrakan sempit murahan dengan bau rokok dan keringat di perbatasan kota.
Kamar kontrakan itu berbau campuran keringat, rokok basah, dan sesuatu yang lebih busuk—bau tubuh yang sudah terlalu lama dipakai.
Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, menyinari lantai yang basah oleh cairan, air liur, dan noda darah kering.
Seprei kusut bergulung di sudut.
Botol beer kosong berguling.
Tali yang tadi mengikat pergelangan Hani masih tersangkut di kaki ranjang besi yang berkarat.

Tiga pria itu sudah pergi. Tiga pria asing telah menggunakan tubuhnya malam itu,
Mereka menyiksanya kembali malam itu.

Mereka tidak mengucapkan apa-apa setelah selesai melampiaskan nafsunya.
Tidak ada yang peduli.
Tidak ada yang bertanya apakah ia masih bisa berdiri.
Pintu hanya ditutup begitu saja, meninggalkan Hani tergeletak di tengah kekacauan yang mereka ciptakan selama berjam-jam.

Tubuh Hani tidak lagi utuh dalam arti yang manusiawi.
Payudaranya lebam keunguan, puting buntung yang terluka dan berdarah lagi.
Memek dan anusnya menganga, mengeluarkan sperma putih kental yang sesekali bercampur merah darah.
Paha dalamnya penuh goresan kuku dan bekas gigitan.
Rambutnya kusut, hijabnya tergeletak basah di lantai.
Napasnya dangkal, setiap tarikan terasa seperti jarum yang menusuk paru-paru.

Ia mencoba menggerakkan jari.

Gagal.

Mencoba mengangkat kepala.

Gagal.

Ponselnya ada di tasnya yang digantung di sudut ruangan, terlalu jauh.
Ia tidak punya tenaga untuk merangkak. Tidak punya suara untuk memanggil.
Tidak punya siapa-siapa yang akan datang meski ia berhasil berteriak.

Ia ditinggalkan begitu saja seperti sampah.

Di kamar pelacur yang kotor ini, di perbatasan kota, Hani— seorang istri, ibu, perempuan yang dulu punya nama—sekarang hanyalah mayat hidup yang masih bernapas.

Air matanya mengalir pelan ke pelipis, membasahi rambut yang sudah lengket.
Tapi anehnya, di dalam dada yang semakin berat, tidak ada panik.
Tidak ada penyesalan yang membara.

Hanya keheningan yang luas dan damai.

Ia memejamkan mata.

Dan di balik kelopak mata yang sudah terlalu lelah, muncul bayangan dan kenangan lama, pagi-pagi di rumah.

Rina yang masih kecil, rambutnya berantakan, berlari barefoot di lantai dapur sambil tertawa.

“Mama, peluk!” Suara itu masih jernih di telinganya.
Ia merasa lagi bagaimana lengan kecil itu melingkari pinggangnya, bagaimana bau sampo anak-anak menempel di bajunya.

Ia merasa lagi bagaimana ia berlutut, memeluk ketiga anaknya sekaligus.
Mencium kening mereka satu per satu sampai mereka menggeliat karena geli.

Ia merasa lagi malam-malam ketika ia menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara serak, jari-jarinya mengusap rambut mereka sampai napas mereka menjadi teratur.
Ia merasa lagi bagaimana dada yang penuh luka itu tetap bisa menjadi bantal paling nyaman bagi anak-anaknya.

“Mereka tidak tahu,” pikirnya pelan.
“Mereka tidak akan pernah tahu Mama mereka berakhir di tempat seperti ini.”
“Mereka hanya akan ingat Mama yang memeluk, Mama yang bilang “sayang” setiap malam.”

Napasnya semakin jarang.

Di luar, hujan mulai turun lagi, mengetuk atap seng yang bocor.
Tetesan air jatuh di dekat kepalanya, dingin, tapi ia tidak lagi bisa merasakan.
Tubuhnya sudah kebal merasakan sakit yang menyiksa.
Yang tersisa hanyalah gambar-gambar di ingatan itu—senyum Rina, tawa adik-adiknya, kehangatan rumah yang dulu ia jaga dengan segala cara.

Ia tersenyum.

Senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat di wajah yang memar.
Tapi itu senyum yang paling tulus yang pernah ia miliki sejak lama.

“Mama sayang kalian…” bisiknya, suara itu lebih pelan dari napas.
“Sampai di sini… Mama tetap sayang…”

Napas terakhirnya keluar seperti hembusan angin yang lelah.

Di kamar pelacur yang kotor dan berantakan itu, di tengah sisa-sisa sesi yang kejam, Hani pergi tanpa saksi.
Tanpa yang menjemput. Tanpa yang menangisi.
Bahkan tanpa ada yang tahu bahwa malam itu, seorang ibu telah menghembuskan napas terakhirnya dalam kehinaan yang sempurna.

Tapi di dalam hatinya yang sudah diam, yang tersisa bukan kehinaan.

Yang tersisa hanyalah tiga wajah kecil yang tersenyum di balik kelopak mata yang tidak akan terbuka lagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Hani benar-benar damai.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment