Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Game and Challenge (Ep 9)
Baca Cerita Seks Terbaru INdonesia
Malam itu dingin, menunjukkan pukul 22.15, Gatot dan Hendra sedang membawa Hani, Budak seks mereka mencari angin.
Hani berdandan natural, memakai hijab bergo lebar berwarna hitam, dipadukan dengan Gamis longgar berwarna sage.
Ia diminta Hendra tidak memakai apapun lagi dibalik gamis dan hijabnya.
Mereka bertiga makan Bersama di pedagang kaki lima untuk memastikan Hani punya tenaga untuk memuaskan mereka lagi malam ini. Setelah sesi makan Bersama yang canggung itu, dalam perjalanan pulang Gatot terpikirkan hal gila.
Mobil Hendra berhenti di pinggir jalan sepi di pinggiran kota yang gelap.
Lampu jalan kuning redup, beberapa warung kopi pinggir jalan masih buka untuk para sopir malam.
Hani duduk di kursi belakang dengan tubuh gemetar.
Gatot duduk di depan bersama Hendra. Keduanya berbisik sejak tadi merencanakan sesuatu pada Hani.
Tiba2 Gatot mulai bicara.
“Malam ini kamu belajar jadi pelacur,” kata Gatot pelan sambil menoleh ke belakang.
“Dengan tarif Rp2.000 per orang, kamu harus melayani siapa saja yang membutuhkan.”
Hani langsung menggeleng kuat-kuat, dia seakan tak percaya apa yang baru saja di dengar.
“Tidak, Tuan… saya mohon… jangan seperti ini… saya punya anak…” Tangisnya pecah.
Hendra yang sedari tadi diam akhirnya bicara dengan suara dingin.
“Jangan sok suci deh.. Sekarang kamu cuma pelacur. Kalau menolak, besok pagi semua video mu akan aku ku viralkan.”
Gatot menambahkan dengan senyum tipis
“Dan aku akan pastikan dirimu akan dipecat dengan alasan yang memalukan.”
Hani menunduk. Tubuhnya gemetar hebat.
Ia menangis tanpa suara selama hampir sepuluh menit.
Di dalam hatinya ada pertarungan hebat — rasa malu, kehancuran, dan ketakutan yang luar biasa.
Akhirnya ia mengangguk lemah. “Baik… Tuan, lakukan semaumu.”
Gatot dan Hendra tertawa lantang mengejek Hani
“HAHA…HAHA…NAH GITU DONG PELACUR!!!”
Mereka mulai mencari target.
Mobil melewati daerah kumuh di pinggiran kota yang terkenal sepi dengan tingkat kriminalitas tinggi.
20 Menit mengitari area itu, mereka tiba di sebuah Under Pass Fly Over yang gelap.
Terlihat sebuah warung kopi sepi dengan lampu remang2.
Seorang pria berkulit sawo matang terlihat sedang minum kopi di warung itu.
Gatot memutuskan pria itu adalah target pertama.
Gatot mendekatinya, bicara sebentar, lalu memberi kode ke Hani.
Pria pertama adalah seorang sopir truk paruh baya berusia sekitar 50 tahun.
Badannya gemuk, kulitnya hitam legam karena sering terpapar matahari, dan bau keringat serta rokok kretek yang menyengat.
Hani berjalan mendekat dengan langkah gontai.
Gamis dan Hijabnya membuat tubuhnya terlihat anggun, memberikan pemandangan wanita alim yang sholehah bagi setiap pria yang melihatnya.
Suaranya hampir hilang saat berbisik,
“Assalamualaikum…bapak mau saya puasin?bayar Rp. 2.000 saja,” Hani menawarkan diri
Pria itu mengerutkan kening sebentar, lalu tertawa kasar.
“Wah, murah banget mba, HAHAHAHA…”
“Bisa gaya apa aja mba?”tanya nya lebih lanjut.
“Suka suka bapak..” jawabnya pelan dengan pandangan menunduk.
Pria itu setuju. Ia berdiri, meraih lengan Hani kasar, dan menariknya ke gang sempit di belakang warung.
“Ya udah sini Mba..”
Gang itu gelap, bau air kencing, dan penuh sampah.
Gatot dan Hendra mengawasi dari kejauhan.
Begitu sampai di gang, pria itu langsung mendorong Hani keras hingga punggungnya membentur dinding bata yang kasar
“Berlutut,” perintahnya kasar.
Hani gemetar hebat. Air matanya mulai menetes.
Ia menurut. Ia berlutut di lantai gang yang kotor dan basah.
Hijabnya masih terpasang rapi, membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
Seorang Wanita alim yang dipaksa memuaskan nafsu pria tak dikenalnya.
Pria itu membuka resleting celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah tegang.
Kontol itu bau pesing dan keringat yang langsung menyeruak begitu dikeluarkan dari celana.
“Nih, Isap,” katanya sambil memegang kepala Hani dan mendorong kontolnya ke arah mulut Hani.
Hani hampir muntah karena bau kontol yang menyengat.
Ia memejamkan mata dan mencoba mengisap dengan kikuk.
Pria itu tidak sabar. Ia memegang hijab Hani seperti pegangan,
Ia menggoyang pinggulnya kasar, memaksa kontolnya masuk hingga ke tenggorokan Hani.
“Glek… glrkk… hhhkkk…” Hani tersedak, air liurnya menetes dari mulutnya.
Pria itu terus menggenjot mulutnya dengan brutal, seolah Hani hanya sebuah lubang pemuas nafsu.
Hani tersedak, wajahnya terlihat kepayahan dan memerah.
Setelah puas menggenjot kasar mulut Hani, pria itu menariknya berdiri
Ia membalikkan tubuh Hani menghadap dinding, dan mengangkat gamisnya hingga pinggang.
Hani dalan posisi nungging.
“Wah emang uda niat jual diri ya mba?” ejeknya saat melihat Hani dibalik Gamisnya sudah tidak memakai apa apa lagi.
Pantat Hani yang indah diterpa angin malam yang dingin.
Bulu bulu halus Hani mendadak bangkit dan merinding merasakan sensasi angin malam hari.
Memek berjengger kehitamannya seakan menantang siapa saja untuk segera menghujamnya dengan brutal.
Pria itu melihat memek berjengger Hani yang longgar dan menjijikkan itu dengan pandangan terperangah.
“Jelek amat memek mu mba?Mana Longgar dan item,” ejeknya sambil tertawa.
Hani hanya terdiam di lecehkan oleh pria itu, seakan menerima nasibnya.
Tanpa pemanasan lama, ia langsung menghujamkan kontolnya ke dalam memek Hani.
“Aaaahhh!!!” Hani menjerit pelan, tangannya mencengkeram dinding bata.
Pria itu mengentotnya kasar seperti binatang.
Setiap hantaman membuat tubuh Hani terdorong ke dinding.
Payudaranya yang kendur menggantung bergoyang-goyang di balik gamisnya.
“Cantik cantik kok jadi Pelacur tho Mba…” desis pria itu sambil menampar bokong Hani berkali-kali.
PLAKK…PLAKK..
“Uda berapa kali turun mesin nih memek??” Ejek pria itu dengan kasar
“SShhh…Anak saya 3 Pak…” Jawab Hani dengan desahan kepayahan.
“Pantes rasanya kaya jalan Tol…sshhh” Ejek pria itu.
Rasa sakit, malu, dan kehinaan bercampur aduk di dadanya.
Tapi tubuhnya yang sudah sering dilatih Gatot mengkhianatinya.
Memeknya becek menyambut setiap hujaman kontol besar yang bau itu, meski hatinya menjerit menolak.
Pria itu semakin liar menyetubuhi Hani
“Ahh..Lonte…” Ia menarik hijab Hani ke belakang seperti tali kekang, membuat leher Hani tertekuk. Hantaman kontolnya semakin dalam dan kasar.
Pria itu mencabut kontolnya dari memek Hani yang banjir.
Ia mengarahkan ujung kontolnya ke Anus Hani yang dibasahi liur.
“Memek mu kurang gigit Mba”
“Izin pake duburnya ya, HAHAHAHA…” Pria itu tertawa dan mendorong keras
“JLEEBBB”
1 dorongan kuat membuat anus Hani meregang.
Kontol pria itu dengan mudah melesak ke dalam anus Hani yang masih kering.
“Cuih..” Pria itu meludahi anus Hani lalu memasukkan lagi kontolnya
“Arghh..nah ini baru nikmat” celoteh pria itu.
Pojok gang itu jadi saksi Hani di sodomi oleh sopir paruh baya yang sama sekali tak dikenalnya.
Hani perlahan mulai menikmati persetubuhan hina itu.
Tubuhnya di genjot dengan kasar, pantatnya berkali kali di tampar hingga memerah.
Hingga tiba tiba pria itu meraih kedua bahu Hani.
Ia menariknya sekuat tenaga, sesuatu terasa hendak menyembur dari dalam kontolnya.
Akhirnya ia mengerang keras dan menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam anus Hani.
CROTTT…CROTTT…CROTTT…
“AHHH…AHHH, Nikmat banget duburmu Mba” erang pria itu.
Ia mencabut kontolnya, mengusapnya ke gamis Hani.
Ia mendorong Tubuh Hani ke depan hingga tersungkur, seakan tubuh itu sudah tidak diperlukan lagi.
lalu Ia melemparkan dua lembar uang seribu ke tanah yang kotor.
“Nih..Ambil..”
Pria itu pergi sambil tertawa puas, meninggalkan Hani yang ambruk di gang kotor itu.
Sperma mengalir dari anusnya yang merekah.
Hani menatap lembaran uang di tanah dengan mata kosong.
Ia meraih uang itu dengan tangan gemetar.
Ia benar-benar sudah jatuh ke titik terendah.
=======================================
Malam itu terasa lambat dan panjang.
Setelah pria pertama selesai, Hani berjalan keluar dari gang dengan langkah sempoyongan.
Sperma masih menetes pelan dari anusnya.
Hijabnya miring, gamisnya terlihat lusuh dan kusut. Wajahnya sedikit pucat.
Ia di jemput oleh Gatot dan Hendra.
Hani di sambut dengan tawa melecehkan oleh keduanya.
“Gimana sayang? Nikmat ga kontol pak Sopir tadi?” Tanya Hendra dengan sinis.
“Sudah Mas, Tuan..aku ga kuat..” isak Hani
Tubuh Hani terlihat menyedihkan. Ia kepayahan dan lemas.
Gatot memberinya air mineral untuk memuaskan dahaganya setelah sesi pertama.
“Enak aja udahan, lanjut lagi kita, HAHAHAHA….!” Tawa Gatot
“Lanjut kemana kita, Bro” tanya Gatot pada Hendra.
“Lurus aja dulu.. di depan ada Pabrik, jam segini waktunya mereka pulang” jawab Hendra
Waktu menunjukkan pukul 00.15 WIB.
Udara terasa semakin dingin menusuk kulit.
“Turun disini, jalan sampai pohon randu itu”
“Berentiin orang yang lewat, tawarin!!” perintah Gatot pada Hani
“Tuan, sepi dan gelap sekali…plisss, jangan disini”
“Kamu mau viral??” ancam Gatot.
Hani pun tak memiliki pilihan.
Ia segera turun dari mobil dan melakukan perintah tuannya.
Gatot dan Hendra mengamati dari jauh dengan mobil.
Tak lama kemudian, Hani melihat seorang satpam pabrik yang baru selesai shift malam.
Pria itu berusia sekitar 45 tahun, tubuhnya tegap dan kekar, mengendarai motor matic.
Ia baru keluar dari pintu pabrik dan hendak pulang.
Hani menarik napas dalam-dalam.
Matanya masih sembab berlinang air mata, tapi ia memaksa diri melangkah ke tengah jalan dan menghentikan pria itu.
“Mas… tunggu sebentar,” panggil Hani dengan suara gemetar.
Satpam itu mengerem motornya di depan tubuh Hani.
Matanya langsung menyipit melihat Hani yang berpenampilan seperti ibu rumah tangga biasa, dengan gamis sedikit lusuh dan Hijab yang berantakan.
“Ada apa, Mba?”
Hani menunduk dalam-dalam, suaranya hampir tidak terdengar.
“Mas… mau saya puasin ga?mas bayar Rp. 2.000 aja…”
Pria itu kaget lalu terdiam beberapa detik, lalu tertawa sinis.
“Wah, Wanita jual diri sekarang sudah senekat ini ya? Ga malu ma hijabnya.”
Ia memandang Hani dari atas ke bawah dengan tatapan lapar.
Hani memang sudah cantik dari sananya, parasnya manis meski kulitnya tidak tergolong putih.
Setiap pria yang melihatnya pasti akan terpesona.
Pria itu akhirnya ia mengangguk. “Ya uda, Tapi engga disini, ayo Naik…”
Hani naik ke boncengan motor dengan tubuh gemetar.
Pria itu membawa Hani ke sebuah gudang kosong di ujung jalan.
Gudang itu gelap, mungkin sudah kosong ber tahun tahun.
Hanya diterangi cahaya lampu yang redup.
Pria itu memarkirkan motornya dan mengajak Hani masuk.
Terlihat Pria itu seakan hapal sekali lokasi itu.
Begitu masuk, pria itu langsung menutup pintu gudang.
Ia tidak sabar. Langsung mendorong Hani ke atas tumpukan karung goni bekas hingga Hani tersungkur.
“Kamu istri orang kan? Suamimu kelilit utang?? ,” ejeknya sambil membuka seragam satpamnya.
“Pelacur sekarang cantik2 ya…” gumamnya
Air mata Hani kembali meleleh.
“Mas… pelan-pelan ya… saya mohon…”
“Dapat barang bagus gratisan mana bisa pelan, Mba” gumamnya.
Pria itu merobek bagian atas Gamis Hani hingga kancingnya berhamburan,
Payudara kendur Hani berayun Ayun menyedihkan.
“Asu, tetemu kendur amat Mba?” ejeknya
Pria itu segera meraih tangan Hani.
Ia mengikat tangan Hani di belakang punggung menggunakan ikat pinggangnya sendiri.
Hijab Hani ditarik ke belakang seperti tali kekang.
Ia mengambil tongkat satpamnya yang panjang dan keras.
Tongkat itu digesek-gesekkan di memek Hani yang sudah basah campur sperma pria sebelumnya.
“Wah, bekas dipake barusan ya?” ejeknya
Kemudian pria itu memasukkan ujung tongkat ke dalam memek Hani perlahan,
dengan 1 dorongan tongkat itu melesak masuk ke rongga memeknya yang menjijikkan itu.
Pria itu segera memainkannya, memompa masuk-keluar dengan kasar.
“Aaahhh!!! Sakit… Mas… tolong…pelaannnn” jerit Hani.
Pria itu tertawa.
“Memek jam terbang tinggi ini ya?HAHAHAHA…”
Ia terus memainkan tongkat di memek Hani selama hampir 30 menit, memutar-mutarnya.
Mendorongnya dalam-dalam hingga Hani kejang-kejang.
Hani merasakan sensasi yang aneh Ketika ujung tongkat itu menyentuh rahimnya.
Setelah puas membuat Hani kepayahan dengan tongkat itu ia mencabutnya dan langsung memasukkan kontolnya yang besar dan tebal.
“SLEBBB…”
Dengan mudah kontol pria itu memasukin liang peranakan Hani.
“Asu, ga berasa cok memekmu!!” ketus pria itu, namun tetap melanjutkan genjotannya.
Pria itu tampaknya memiliki stamina yang luar biasa.
Ia mengentot Hani dalam berbagai posisi selama hampir dua jam penuh tanpa henti.
Mulai dari doggy style di atas palet, lalu missionary sambil mencekik leher Hani.
Kemudian berdiri sambil mengangkat satu kaki Hani tinggi-tinggi ke bahu.
Semua lubang Hani ia coba bergantian.
Ia menghantam memek Hani dengan kasar, lalu memindahkan kontolnya ke anus Hani yang masih kering.
Membuat Hani menjerit kesakitan.
“Ahhh…sakit mas” sesekali Hani merintih
Bolak-balik antara memek dan anus bergantian tanpa ampun, dan juga sebaliknya.
Terlihat saat kontol pria itu dicabut dari anus, noda coklat kehijauan menempel di ujungnya.
Namun seakan tak peduli, Pria itu langsung memasukkan kontol kotor itu ke memek Hani
Sesi penggenjotan terus berlanjut.
Kadang ia memasukkan tongkat ke lubang yang sedang kosong sambil kontolnya berada di lubang yang lain
Double penetration dengan kombinasi kontol dan tongkat.
Hani kelimpungan menahan sakit di sepanjang sesi.
Tapi di tengah kesakitan yang luar biasa, tubuhnya sedikit demi sedikit memberikan reaksi yang ia benci sendiri.
Ia beberapa kali mencapai orgasme paksa, membuatnya semakin membenci dirinya.
“Ahhh teruss, Mmmhhh…” gumam Hani di sela tangisannya.
Pria itu semakin gila mendengarnya.
Ia menampar payudara Hani, menjepit putingnya, dan terus menghujam memek dan anusnya tanpa henti.
“Dasar pelacur murahan!!” bentaknya sambil menyemburkan sperma pertama ke dalam anus Hani.
Ia akhirnya ejakulasi.
CROT…CROTT…CROTT…
Ia tidak berhenti. Hampir dua jam penuh Hani terus dilumat habis.
Sperma pria itu memenuhi memek dan anus Hani berkali-kali.
Setelah puas, pria itu melemparkan uang Rp2.000 ke wajah Hani yang sudah tak berdaya.
“Nih jatah mu Mba..”
Ia pergi meninggalkan Hani yang tergeletak di gudang kosong, tubuhnya penuh keringat, sperma, dan debu.
Memek dan anusnya terasa perih, mengeluarkan cairan putih kental yang berbusa.
Hani menatap langit-langit gudang dengan tatapan kosong.
Ia tak percaya malam ini dipaksa melayani 2 pria yang sama sekali tak dikenalnya.
Gatot dan Hendra masih mengamati dan menunggu Hani dari kejauhan.
Mereka sedang bersiap mencari target selanjutnya.
