Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Mencapai Batas (Ep 11)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Cerita Dewasa Hijab Terbaru Indonesia

Sesi dengan pria keempat membuat Hani kembali pingsan.
Pakaiannya terkoyak menyisakan tubuh hina yang belepotan keringat dan sperma.
Memek dan anusnya menganga, sperma dan kotorannya mengalir dari dua lubang itu.

Tak berapa lama Hendra dan Gatot datang menjemput.
Mereka mengangkat tubuh Hani yang terkapar seperti mayat, membawanya ke mobil.

“Masih hidup kan, Bro??” Tanya Gatot ke Hendra.
“Masih keknya..” jawab Hendra

“Ya uda angkut, kita lanjut cari lagi..” Kata Gatot
Hendra memasukkan tubuh Hani yang pingsan ke dalam mobil.
Mereka Kembali melanjutkan perjalanan malam yang mengerikan.

Di sepanjang perjalanan Gatot dan Hendra berbincang tentang tujuan mereka berikutnya.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah bengkel las kecil yang masih menyala lampu neonnya di pagi buta.
Gatot turun dan berbicara singkat dengan pemilik bengkel — seorang tukang las gendut berusia 48 tahun.
Badannya besar, berminyak, dan tangannya penuh kapalan hitam.

“Pake aja ni cewek, Gratis buat penutup malam ini..,” kata Gatot sambil menunjuk Hani yang duduk lemas di kursi belakang.
“Boleh kasar sesuka Bapak..” imbuhnya

Pria gendut itu awalnya hanya melirik. Seakan dia tak tertarik.
Ia mulai memperhatikan Hani dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki.
Nafsunya bangkit perlahan saat melihat Hani yang cantik.

“Boleh diapain aja ni bos..?” tanya pria itu ke Gatot

“Terserah bapak aja, yang penting jangan sampe mati,” Jawab Gatot

“Beneran gratis nih?” Tanya lagi pria itu

“Kalo mau bayar buat barang kaya gitu ya gapapa, hahaha…” jawab Gatot dengan sinis.

“Ogah lah..haha, tapi cantik juga dia” Jawab pria itu
“Oke deh..”

Hani setengah sadar, dia dengar pembicaraan itu namun sudah tak sanggup bereaksi apapun.
Mereka membawa Hani masuk ke dalam bengkel yang kumuh, terlihat berbagai macam alat las, besi besi berbagai ukuran.
Pria itu duduk di kursi yang terlihat lusuh, kakinya terbuka lebar.

Ia menarik Hani ke depannya dengan kasar.
“Sini mulutmu..,” katanya dengan suara serak berat.

Hani sudah tidak punya tenaga untuk melawan.
Ia berlutut di lantai beton yang dingin dan kotor.
Pria itu segera memerosotkan celana yang dikenakannya.
Dengan tangan gemetar Hani membuka resleting celana pria tersebut.

Kontol pria gendut itu besar, berurat tebal dan terlihat masih lemas.
Hani terkejut melihat ukuran kontol pria itu yang masih lemas, terlihat begitu besar.
Batinnya, masih lemas saja sudah sebesar itu, bagaimana kalo sedang ngaceng.

Pria itu tampak tidak sabar, ia memegang kepala Hani dengan dua tangan besarnya.
Ia mengarahkan kepala Hani ke depan kontolnya.

“Buruan lonte..”
“Kerjakan tugasmu,..” perintah pria itu

Hani mulai menjilat kontol pria itu, memainkan bijinya.
Bau keringat dan pesing berulang kali hampir membuat Hani muntah.
Kontol pria itu perlahan mulai ngaceng.
Ukurannya terbilang sangat besar, dengan panjang sekitar 15 cm.

Tanpa aba aba Pria itu mendorong kontolnya masuk ke mulut Hani.
“Glrrkk… hhhkkk… hkkk!!”
Hani langsung tersedak.
Kontol itu terlalu besar, memenuhi seluruh rongga mulutnya.
Pria itu memainkan kepala dan mulut Hani, menaik turunkan kepalanya dengan posisi Hani mengulum kontol besar itu.

“Ahhh.. nikmat juga kau punya mulut..” erang pria itu
“Glrrkk… hhhkkk…” Hani Kembali tersedak

Pria itu menikmati setiap detik, menggoyang pinggulnya pelan tapi dalam.
Ia menekan kepala Hani agar kontolnya masuk semakin dalam.
Air liur Hani mengalir, bercampur ingus.
Ia beberapa kali terlihat menggelepar, tangannya mencengkeram paha pria itu karena sesak napas.
Namun cengkeramannya tak berati apa apa buat pria besar itu.

Pria itu terus mengentot mulutnya selama 25 menit, sesekali berhenti sebentar agar Hani tidak langsung pingsan, lalu melanjutkan lagi dengan lebih dalam.
“Enak… mulut mu ternyata enak banget,” desisnya sambil menarik hijab Hani.
“Udah berapa kali dientot malam ini?” tanya pria itu.
Namun Hani tidak pernah diberi kesempatan untuk menjawab
Mulutnya bertubi tubi di hujam kontol besar itu.

Beberapa menit kemudian pria itu hendak mencapai klimaks.
Akhirnya pria itu mengerang panjang dan menyemburkan sperma kentalnya langsung ke tenggorokan Hani

“AHHH…Anjingg, nikmatnyaaa” erang pria itu

“Hoek, Glrrkk”
Hani tersedak parah, sebagian besar cairan keluar dari hidung dan sudut mulutnya.
Liur, ingus dan sperma pria itu bercampur di mulutnya.
Ia kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terjerembab ke belakang.

Pria itu tidak memberi Hani waktu istirahat.
Ia berdiri, mengangkat tubuh Hani ke meja kerja di sebuah ruangan
Pria itu mengikat kedua tangan dan kaki Hani ke setiap ujung meja.
Tubuh Hani membentuk X terbaring di atas meja kerja dari besi.
Hani dalam kondisi setengah sadar, tubuhnya terkulai lemas.

Dari laci kerjanya, pria itu mengambil dua penjepit buaya besar yang biasa digunakan untuk las listrik.
Penjepit itu dihubungkan ke sebuah adaptor besar 50 Ampere yang biasa digunakan untuk charge accu truk.
Hani melihat itu dengan ketakutan.
Tubuhnya berontak membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Jangan… Mas… saya mohon… saya sudah tidak kuat lagi…” bisiknya dengan suara serak.

Pria itu tersenyum sadis.
“Puting mu gemesin tau,” gumamnya sambil tertawa pelan.

Dengan gerakan lambat, ia menjepitkan jepit buaya pertama ke puting kanan Hani.
Gigi besi itu menggigit daging puting dengan kuat hingga Hani langsung menjerit.

“Aaaahh… sakit… Mas… Ampun mass..” rengek Hani kesakitan

Pria itu tidak berhenti. Jepit kedua ia pasang ke puting kiri.
Kedua puting Hani kini terperangkap di dalam jepit buaya yang dingin dan tajam.
Rasa nyeri yang tajam langsung menyebar dari dada ke seluruh tubuhnya.

Pria itu menikmati pemandangan itu.
Seorang Wanita yang terlihat polos namun dengan tubuh hina terbaring pasrah di mejanya.
Seorang Wanita yang sepenuhnya dalam kendali dirinya.

Tak lama pria itu mendekati adaptor besar itu, menset pada tegangan 50 Volt.
“Klik” saklar Utama dinyalakan.
Arus listrik langsung mengalir dari adaptor ke penjepit buaya itu.

“AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH!!!!!”

Tubuh Hani langsung melengkung seperti busur.
Setiap ototnya menegang seperti kawat yang ditarik.
Rasa panas dan tusukan listrik yang hebat langsung menembus putingnya, menjalar ke dada, ke perut, bahkan sampai ke ujung jari kakinya.
Ia merasakan seolah payudaranya dibakar dari dalam.

“AAAAAAAAARRRGGGHHH!!!”
Pria itu mematikan saklar sebentar.
Hani terengah-engah, air mata mengalir deras, tubuhnya gemetar hebat.
Tapi sebelum ia sempat bernapas lega, pria itu menyalakan lagi.

“AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH!!!!!”
“AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH…AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH!!!!!”
Payudaranya bergoyang liar, kakinya menendang-nendang sekuat tenaga.
Tubuhnya menggelepar diatas meja kerja besi itu.

Hani menjerit dengan suara pecah.
Rasa sakitnya berubah menjadi gelombang yang terus-menerus.
Putingnya terasa seperti dibakar dan ditarik sekaligus.

“Ampun Maaaasss….!!!!” Teriak Hani

Daging di sekitar puting berdenyut-denyut karena kejutan listrik.
Ia mencoba meronta, tapi ikatan di kaki dan tangan menahan tubuhnya.
Kakinya menendang-nendang udara, menghasilkan bunyi gemeretak yang keras.

Pria itu memainkan saklar dengan santai.
Ia menyalakan arus selama beberapa detik, mematikannya, lalu menyalakannya lagi lebih lama.
Setiap kali arus mengalir, Hani merasakan putingnya semakin panas,
semakin sakit, seolah mau meledak dari dalam.
Setiap usaha meronta yang dilakukan hanya membuat semakin nyeri di putingnya.

“HAHAHAHA…rasain itu lonte” ketus pria itu
Pria itu membiarkan tubuh Hani tersengat listrik selama hampir 20 menit.

Rasa sakit yang berulang membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Ia hanya merasakan dada yang terbakar, puting yang ditarik oleh arus,
dan tubuh yang kejang tanpa kendali.
Pria itu menyalakan arus lebih lama lagi
Mulut Hani mulai mengeluarkan busa putih, matanya melotot ke atas.
Air kencing dan kotoran keluar tanpa kendali dari memek dan anusnya yang longgar.

Pria itu duduk santai di kursi, merokok sambil menikmati pemandangan itu dengan tatapan puas.

“Goyang terus…HAHAHAHA”

“AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH…AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH!!!!!” hani terus melolong

Ia memainkan saklar adaptor dengan menyalakan sebentar, mematikan, lalu menyalakan lagi lebih lama.
Setiap kali arus menyala, Hani kejang hebat.
Tubuhnya menggelepar seperti ikan yang sekarat di daratan.
Suaranya sudah tidak lagi bisa berteriak, hanya erangan serak dan busa yang semakin banyak keluar dari mulutnya.

Pria itu menikmati setiap detiknya.
Puncaknya terjadi saat ia menyalakan arus cukup lama.
Tubuh Hani menggelepar hebat.
Puting kiri Hani terlihat tidak kuat lagi menahan jepitan buaya itu.
Rasa nyeri yang tajam meningkat menjadi rasa koyak yang mengerikan.
terdengar samar bunyi robek yang mengerikan dari payudaranya.
Goyangan kuat tubuh Hani sedari tadi mengakibatkan Jepit buaya itu menarik daging putingnya hingga putus terlepas.

“AAAAAAAAAARRRRRGGHHHH!!!!!” Teriak Hani sekuat tenaga.

Jepit buaya itu lepas bersama potongan daging puting yang masih menempel di giginya.
Darah segar langsung mengalir dari dada kiri Hani, menetes ke meja besi yang dingin.
Hani menjerit dengan suara yang hampir hilang.

Tubuhnya kejang hebat sekali lagi.
Rasa sakit yang luar biasa membuatnya kehilangan kontrol total.
Kencing mengalir dari memek yang longgar, diikuti kotoran yang keluar tanpa bisa ditahan.
Lantai di bawah meja besi basah kuyup oleh cairan tubuh Hani.
Pria itu tertawa puas melihatnya.

Hani hanya tergeletak lemas di lantai bengkel, tubuhnya masih kejang pelan.
Matanya kosong.
Mulutnya berbusa
Napasnya pendek-pendek.
Tubuhnya terus mengeluarkan kencing dan kotoran tanpa henti.
Beberapa detik kemudian, Hani pingsan di atas meja itu.

Malam itu Hani di siksa dengan sadis oleh pria yang tak dikenalnya.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment