Hanifah, Karyawan Sholehah Pemuas Atasan – Jiwa Yang Menyerah (Ep 13)

Author Avatar

RajaBokeps

Joined: Mar 2025
Bagikan Video Bokep Ini

Cerita Seks Ukhti Terbaru

Hari-hari setelah itu berlalu seperti kabut tebal yang tak pernah benar-benar hilang.

Hani berjalan di antara dinding rumahnya sendiri dengan langkah yang semakin ringan, padahal tubuhnya semakin rusak.
Ia memasak, menyuapi anak-anak, menyeka keringat Rina, memeluk adik-adiknya yang masih kecil sampai mereka tertidur.
Setiap pelukan itu adalah doa bisu.
Setiap ciuman di kening mereka adalah pengingat bahwa ia masih punya alasan untuk tetap hidup—bukan sebagai istri.
Bukan sebagai perempuan utuh, melainkan sebagai ibu yang rela mengorbankan segalanya agar rumah ini tidak runtuh.

Harapa Hani hanya 1, Ia tak ingin rumah tangganya hancur.
Ia tak rela ketiga anaknya tumbuh dalam kehancuran.
Maka, di suatu malam ketika Hendra tertidur dan suara napas anak-anak terdengar damai dari kamar sebelah.
Hani duduk di lantai kamar mandi, menatap bayangannya sendiri di cermin yang buram.

“Baiklah Aku pilih ini,” bisiknya pelan, seolah sedang bersumpah kepada seseorang yang tak ada.
“Aku pilih jadi milikmu sepenuhnya, Tuan… asalkan keluargaku tetap utuh.”

Dan sejak malam itu, ia berhenti melawan pada takdir.

Gatot merasakan perubahan itu lebih cepat dari yang ia duga.

Suatu siang di ruang kerjanya yang tertutup, ia memerintahkan Hani berlutut.
Tanpa ancaman, tanpa video, tanpa kata-kata kasar.
Hani langsung menurut.
Ia membuka blusnya sendiri, melepaskan bra, lalu menyodorkan payudaranya yang penuh bekas luka.
Payudara yang tak lagi indah.
Puting kirinya—yang dulu cokelat muda dan sensitif—kini tak berujung.

Gatot mencubit salah satu puting itu dengan ibu jari, kasar, memutar, menarik sampai Hani menggigit bibir.

“Sakit?” tanyanya.

Hani mengangguk pelan. Tapi matanya tidak lagi penuh air mata ketakutan.
Ada sesuatu yang lain di sana—getaran gelap yang ia sendiri tak berani namai.

“Lebih keras Tuan” pintanya hampir tak terdengar.

Gatot tersenyum.
Ia menarik puting itu lebih keras, memelintir sampai Hani menjerit pendek.
Di antara desahan sakit itu, panggul Hani bergerak maju, mencari gesekan.
Tubuhnya mulai berbicara sendiri. Tubuhnya merasakan kecanduan.

Sejak hari itu, Gatot tak lagi perlu memaksa. Hani datang sendiri.
Kadang ia dipanggil ke rumah di malam hari.
Kadang di ruang kerja Gatot di siang bolong.
Gatot mengikatnya, memukul payudaranya sampai bekas luka di puting berdarah lagi.
Mengentotnya sampai Hani menangis sekaligus orgasme.

Dan Hani… menerima semuanya dengan tubuh yang semakin tunduk.

Ia mulai menikmati rasa sakit itu.
Bukan karena ia gila, karena rasa sakit adalah satu-satunya cara tubuhnya masih bisa merasa hidup.
Ketika putingnya kanannya ditarik sampai hampir putus.
Ketika anus-nya difisting sampai ia merasa akan robek.
Ketika memeknya dipaksa menampung fleshligt besar dan benda benda asing yang terlalu besar.
Semua itu membuat otaknya melepaskan sesuatu yang memabukkan.
Kenikmatan dan kehancuran bercampur jadi satu.
Ia orgasme lebih dalam..

Ia basah sambil memohon pada Gatot lebih keras.

Gatot tidak menyimpan Hani hanya untuk dirinya sendiri.

Beberapa kali ia meminjamkan Hani pada rekan, kolega, atau pria asing yang ditemuinya di jalanan.

Malam itu 3 teman Gatot datang ke rumahnya.
Mereka adalah pria-pria yang sudah lama mendengar cerita tentang “karyawan pemuas nafsu.”.
Gatot menyuruh Hani berdiri di tengah ruangan, telanjang, hanya berhijab.
Ia memamerkan puting Hani yang buntung seperti barang koleksi langka.

“Lihat,” kata Gatot bangga. “Puting kirinya rata kan??”

Hani berdiri diam, wajahnya merah, tapi ia tidak menutupi tubuhnya.
Ia sudah menerima. Ketika salah satu pria itu menghampiri dan menggigit putingnya sampai ia menjerit, Hani hanya menundukkan kepala.
Ketika mereka bergantian memasuki memek dan anus-nya.
Ketika mereka memukul pantatnya sampai merah, ketika mereka memaksa dua kontol masuk bersamaan ke lubang yang sudah longgar—Hani mendesah.

“SHHH…AHHH, Makasih…”

Bukan hanya karena sakit.
Melainkan karena tubuhnya sudah mengenali semua rasa sakit itu sebagai sebuah kenikmatan.

Ia orgasme hebat di tangan-tangan pria asing.
Ia menelan sperma mereka tanpa diminta.
Dan ketika semuanya selesai, ketika ia tergeletak di lantai dengan cairan kental mengalir dari setiap lubangnya
Hani hanya tersenyum kosong sekaligus lega.

Sementara di rumah, Hani menjadi ibu yang semakin lembut.

Ia memeluk anak-anak lebih lama.
Ia mencium mereka lebih sering.
Ia menyiapkan bekal dengan tangan yang gemetar karena bekas ikatan di pergelangan masih sakit.

Setiap kali Rina bertanya,

“Mama kenapa sering pulang malam?”

Hani hanya tersenyum dan menjawab,

“Mama kerja lembur, sayang. Biar kita bisa makan enak.”

Hendra melihat semuanya. Ia tahu.
Ia melihat istri yang dulu menangis kini pulang dengan wajah yang tenang.
Ia melihat tubuh Hani semakin rusak setiap kali ia membuka baju di depannya.
Dan di dalam hatinya yang gelap, Hendra tidak lagi marah.

Suatu malam, ketika Hani baru saja pulang dari “pinjaman” Gatot, Hendra memeluknya dari belakang di dapur.
Tangannya meraba payudara yang masih perih.

“Berapa orang?” tanyanya pelan.

Hani menjawab. “3 orang mas.”

Hendra menghela napas. Lalu ia mencium leher istrinya, pelan, hampir sayang.

“Bagus,” bisiknya.
“Jangan sampai anakku tau kalo ibunya pelacur”

Hani memejamkan mata.
Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena ia akhirnya menemukan damai yang aneh di tengah kehancuran.

Tubuhnya sudah kecanduan.
Jiwa nya sudah menyerah.
Dan di balik semua itu, cinta seorang ibu tetap menyala—redup, terluka, tapi belum padam.

Ia memilih nasib ini.

Ia memilih menjadi milik Gatot.

Dan setiap kali ia digunakan oleh Gatot dan pria pria asing.
Hani hanya bisa mendesah dalam-dalam—campuran sakit, kenikmatan, dan rasa syukur yang gelap karena setidaknya, rumahnya masih berdiri.

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing

Leave your comment