Kakak Ku Diandra Yunita – Ep 5 – Rumah Sakit Awal Semua
Cerita Dewasa Pesta Seks Terbaru
saat sampai di rumah akupun langsung membukakan pagar untuk Kak Dina, saat aku membuka pagar….
Braaakkkk
aku terjatuh dan tanganku masuk di sela sela pagar rumah Kak Dina, membuat tanganku keseleo.
.
“aduuuuhhhhh” teriak ku kesakitan
.
“Antoooonn” ucap Kak Dina panik dan langsung membantuku masuk kemobil dan mengantarku kerumah sakit.
.
dalam samar samar aku membuka mata, aku duduk di kursi belakang terkulai lemas dengan aku memegangi tangan kananku yang keseleo, ku lihat Kak Dina menyetir dengan fokusnya, aku coba membangunkan tubuhku untuk membetulkan duduk lebih enak.
.
“aduhh aduhhh sakkit” ucap ku kesakitan saat sedikit mengangkat tanganku yang keseleo.
.
“Anton, udah kamu diem aja, jangan banyak gerak nanti tambah parah” ucap Kak Dina khawatir dengan keaadaanku.
.
akupun hanya bisa pasrah, diam dan meringis kesakitan. sedangkan Kak Dina masih fokus menyetir dengan kecepatan yang lumayan cepat.
.
“kita mau kemana Kak?” tanyaku ke Kak Dina.
.
“ke Rumah Sakit dulu, udah jangan banyak ngomong, Kaka fokus nyetir” ucap Kak Dina dengan nada sedikit tinggi sambil menyetir.
.
akupun hanya diam sambil meringis kesakitan.
sesampainya di depan ruang UGD Kak Dina langsung keluar dan minta tolong petugas Rumah Sakit untuk membantunya membawaku ke dalam. disana aku melihat 2 orang petugas dengan pakaian serba putih dengan masker. mereka membuka pintu mobil dan membantuku untuk keluar dan duduk di kursi roda.
.
“aduhhh duhhh pelan pelan Pak” ucapku merengis kesakitan dengan wajah mengkerut.
.
“Pak hati hati Pak adek saya” ucap Kak Dina dengan suster disampingnya mencoba menenangkannya.
.
akupun langsung di bawa masuk kedalam UGD, disana aku dibaringkan di sebuah bilik dalam UGD, ku lihat Kak Dina tampak sangat khawatir dengan keadaanku. tak lama kemudian seorang dokter datang mengecekku.
.
Dokter
.
“ini kenapa bisa begini Bu?” Ucap seorang Dokter kepada Kak Dina.
.
“ini, adek saya tangannya kejepit waktu buka pager, kepeleset jadinya kaya gini” ucap Kak Dina Khawatir.
.
“oh oke, ehhh Sus bawain penyangga tangan yah, gini adik Ibu sepertinya baik baik saja, hanya mungkin tangannya terkilir waktu terjepit itu, saya akan memastikan lagi nanti lewat ronsen ya Bu, untuk penanganannya saya serahkan kepada suster dan perawat disini” Ucap Dokter mencoba menenangkan Kak Dina yang panik.
.
mendengar penjelasan Dokter tadi Kak Dina mulai lega, ia hanya memandangiku, melihat aku di tangani oleh tim medis disini.
.
Suster
.
akupun dilayani oleh 2 orang suster yang sangat cantik meskipun ke 2 suster itu memakai masker, dengan telaten mereka memasangkanku penyangga lengan patah. sudah selesai akupun langsung diberi obat paintkiller sehingga rasa sakit ku mulai mereda.
.
“sudah selesai Bu, untuk penanganan selanjutnya kita tunggu Dokter yah Bu” ucap salah satu suster berambjt pendek dengan ramah.
.
“oh iya sus, makasih banyak” ucap Kak Dina lega.
.
“baik Bu sama sama, kami tinggal dulu yah, kalo perlu apa apa tinggal panggil kami aja didepan, mari” ucap Seorang suster dengan ramah dengan senyuman matanya.
.
“mari sus” ucap Kak Dina membalas tundukan suster.
.
“udah baikan kan kamu Anton?” tanya Kak Dina berdiri disampingku sambil membelai kepalaku.
.
“iyah kak udah mendingan” jawabku menenangkan Kak Dina
.
tak lama suara handphone Kak Dina berbunyi dalam tasnya, Kak Dina langsung mengambil handphonenya dan langsung mengakat telfon yang masuk.
.
“halo” ucap Kak Dina ke handphone.
.
“aku lagi di Rumah Sakit, Anton tangannya keseleo kayaknya”
.
” iya mas, moga aja gak parah”
.
“iya mas makasih yah”
.
“I love you mas” ucap Kak Dina langsung mematikan telfonnya.
.
“siapa telfon Kak” ujarku lemas.
.
” Mas Ferr, nanti Mas Ferr yang tanggung semua biayanya, kamu tenang aja ya, pasti yang terbaik kok layanannya” ucap Kak Dina kembali mengelus kepalaku.
.
“aduk Kak jadi ngerepotin, maaf yah Kak” ucapku tidak enak karna sudah dibantu.
.
“udah nggak papa kamu ini, kaka ke depan dulu yah buat administrasi” ucap Kak Dina dengan senyuman.
.
“iya Kak” ucapku mengangguk.
.
Kak Dina lalu menjauh dariku untuk mengurus administrasi. cukup lama Kak Dina mengurus sampai kembali Dokter yang mengecekku tadi.
.
“Adek, Kaka kamu mana?” tanya Dokter.
.
“oh, Lagi ngurus Administrasi Pak” jawabku.
.
“oh ya sudah kita pergi ke ruang ronsen yah, biar kita bisa cek seberapa parah area lenganmu” ucap Dokter.
.
“baik Dok” ucapku lalu bangun dari tempat itu.
.
saat aku dan dokter berjalan ke ruang ronsen Kak Dina datang kepadaku.
.
“mau kemana kalian?” ucap Kak Dina kebingungan.
.
“kami mau pergi ke ruang ronsen, biar kita bisa cek seberapa parah area lengan adikmu Bu” ucap Dokter menjelaskan.
.
“oh ya sudah saya ikut yah Dok” tawak Kak Dina.
.
“Baiklah, Mari lewat sini” ucap Dokter sambil menunjukan arah jalan.
.
aku dibantu berjalan oleh 2 orang suster, di depanku ada Kak Dina dan Dokter yang sedang berbincang. sesampainya disana aku lalu di arahkan ke sebuah tempat, Dokter, Kak Dina, dan beberapa pegawai rumah sakit berada disisi lain sementara aku berdiri sendiri dengan tegap di suruh oleh Dokter.
.
“oke kita mulai satu dua tiga”
cekrekkkkkk
foto ronsen sangat silau, ini pertama kalinya aku di ronsen.
.
” sudah selesai, Ibu sama Adek Ibu bisa tunggu didepan sebentar, setelah selesai hasilnya nanti bawa ke ruangan saya” ucap Dokter dengan tenang.
.
“oh Iya Dok” ucap Kak Dina.
.
Dokter pun berpamitan diiringi oleh 2 suster yang membantuku tadi, aku dan Kak Dina lalu keluar ruangan dan duduk di tempat tunggu, disana aku melihat ada beberapa pasien lain sedang menunggu hasil ronsen, banyak diantara mereka memiliki keadaan yang lebih parah dariku, membuat aku kurang nyaman saat berada di tempat itu. Aku dan Kak Dina pun duduk dikursi paling belakang, entah kenapa Kak Dina memilih duduk dibelakang apakah mungkin Kak Dina tau aku kurang nyaman dengan tempat ini. kami pun duduk bersebelahan. Kak Dina beberapa kali mengecek keadaanku dia juga bertanya keadaanku, aku hanya menjawab seadanya.
tak lama kemudian namaku di panggil.
.
“Anton Aksara” panggil seorang pegawai.
.
” yuk Ton namamu udah dipanggil” ucap Kak Dina membantuku berdiri mengambil hasi ronsen.
.
setelah mengambil hasil ronsen aku dan Kak Dina langsung pergi ke ruangan Dokter, kami mengetuk ruangan itu lalu masuk kedalam.
.
“masuk Bu” Ucap seorang Dokter.
.
” Ini Dok hasil ronsennya” ucap Kak Dina memberikan hasil ronsen itu.
.
” oh iya Bu, silahkan duduk Ibu, Adek” ucap Dokter mempersilahkan kami berdua duduk.
.
Dokter pun dengan teliti memeriksa hasil ronsennya, dengan kacamata yang iya pasang dengan teliti melihat.
.
“hmmm, jadi begini yah Bu, Bu siapa namanya?” Ucap Dokter menghentikan pembicaraan dan bertanya kepada Kak Dina.
.
“nama saya Dinandra Yunita, kalo ini adek saya Anton Aksara” ucap Kak Dina menjawab.
.
” oh ya begini Bu Dina, Adik Ibu si Anton ini mengelami keretakan di lengan kanan dekat bagian sendinya, saran saya Bu untuk penanganan yang lebih maksimal Anton kita rawat inap selama 2 hari, tapi kalo Ibu keberatan bisa saja rawat jalan, asal Anton harus check up kesini setiap hari, bagaimana Bu?” Tanya Dokter agak sedikit memajukan kepalanya sambil memegang hasil ronsenan.
.
“begitu yah Dok, kalo begitu saya telfon suami saya dulu ya Dok” ucap Kak Dina sambil mengeluarkan Handphonenya dari dalam tas.
.
“silahkan Bu” ucap Dokter dengan ramah.
.
lalu Kak Dina menghubungi suaminya Bang Ferr, tak lama Bang Ferr lalu mengangkat telfonnya.
.
“Halo Mas, ini si Anton katanya harus rawat inap” ucap Kak Dina di telfon.
.
“oh gitu Mas”
.
“iya Mas biar maksimal”
.
“iya Mas, ok ok, makasih yah Mas”
.
“Love You Mas” ucap Kak Dina lalu mematikan telfonnya.
.
“kata Suami saya rawat inap aja, biar maksimal penanganannya” ucap Kak Dina menyetujui usulan Dokter.
.
“baiklah Bu, Ibu bisa ke resepsionis untuk mengecek kamar yang kosong yah” Ucap Dokter dengan senyuman.
.
“baik Dok, terimakasih banyak” ucap Kak Dina sambil membantuku berdiri.
.
“ma ma makasih Dok” jawab ku agak lemas.
.
“sama sama” jawab Dokter.
.
kamipun langsung menuju ruang resepsionis untuk mendapatkan kamar, jujur aku makin tidak enak, aku terlalu banyak merepotkan Kakaku dan Bang Ferr, namun melihat keadaanku sekarang sepertinya tidak mungkin aku menolak, aku hanya bisa pasrah dan suatu saat aku akan membalas perbuatan mereka berdua yang sangat baik kepadaku.
setelah sampai ke resepsionis kami lalu mengambil nomor antrian dan duduk di tempat duduk tunggu resepsionis. tak lama kemudian nomor kami di panggil dan Kak Dina langsung berdiri.
.
tunggu sebentar yah Kaka ngurus dulu” ucap Kak Dina dengan senyuman yang sangat cantik.
.
“iya Kak” jawabku tidak enak.
.
aku melihat Kak Dina sedang berbincang dengan orang resepsionis, tak lama kemudian Kak Dina datang dengan seorang karyawan rumah sakit.
.
“mari Bu saya antar ke kamar VVIP” ucap seorang Karyawan rumah sakit.
.
aku terkejut mendengar kamara VVIP, aku kembali merasa tak enak dengan Kak Dina, aku hanya bisa diam dan tertunduk lesu, dibantu Kak Dina berjalan disampingku dan didepan aku dan Kak Dina ada seorang Karyawan yang mengatarkan kami ke ruang VVIP rumah sakit, cukup jauh kami berjalan akhirnya kami sampai di ruangan yang sangat nyaman dan luas, disana ada tv dan sofa, aku pun lalu di baringkan di sebuah ranjang rumah sakit yang sangat nyaman. tak lama berbaring datang 2 orang suster memasangkan infus ke tanganku sebelah kiri, dengan telaten mereka memasangkan ku infus. prosesnya sangat cepet sehingga mereka lalu izin untuk meninggalkan ruangan. karyawan juga menjelaskan kalo ada apa apa pencet saja tombol yang ada di atas ranjang, nanti akan ada datang suster. setelah menjelaskan mereka pergi, menyisakan aku dan Kak Dina.
.
“Kak ini berapa bayarnya, VVIP lagi?” tanyaku sambil terkulai lemas.
.
” nggak mahal kok, toh yang bayarin juga Mas Ferr, tenang aja yang penting kamu sembuh” ucap Kak Dina menenangkan ku.
.
“hmmm iya Kak, nanti aku ganti yah Kak kalo aku punya uang” ucapku tak enak dengan Kakaku.
.
“iya kalo kamu kaya nanti hahaha” ucap Kak Dina sambil tertawa.
.
akupun membalas tawaan Kak Dina, tak lama lalu datang seorang suster membawakan sebuah makanan rumah sakit, makanan yang sangat lengkap ada daging, nasi merah, sup, buah buahan, susu, dan air mineral.
Kak Dina dengan inisiatif menyuapiku karena kondisiku yang tak bisa makan sendiri. Kak Dina lalu menyuapi dengan lembut dan penuh kasih sayang.
setelah selesai makan Kak Dina izin kepadaku untuk mengambil beberapa baju ku dan laptopnya untuk bekerja.
.
“Kaka ambil baju kamu dulu yah sebentar, terus Kaka juga mau ngambil Laptop, buat kerjain pekerjaan selama nemenin kamu di rumah sakit” ucap Kak Dina sambil siap siap.
.
“oh iya Kak hati hati yah” ucapku.
.
“dadah” ucap Kak Dina melambaikan tangannya lalu pergi.
.
aku lalu membalas lambaian Kak Dina. setelah dia pergi aku jadi gabut, bingung mau melakukan apa, jadi aku memutuskan untuk tidur karna juga aku sudah lumayan ngantuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
akupun terbangun, ku lihat jam di dinding rumah sakit sudah menunjukan pukul 07:54, akupun lalu melihat sekitar, ternyata aku lihat Kak Dina sedang tertidur di sofa, dengan posisi tidur dan kepala di atas tangan sofa serta kakinya yang diangkat ke atas senderan sofa membuat rok hitamnya turun dan memperlihatkan paha pulen mulus berwana putih menggoda dengan kardigan maroon yang dipakainya, aku baru sadar bahwa jam 8 Kak Dina harus ke kantor untuk bekerja, dengan sekuat tenaga yang tersisa aku lalu berteriak sedikit memanggil Kak Dina untuk membangun kannya.
.
“Kak”
“Kak Dina”
“Kak” ucapku dengan nada Keras.
.
Kak Dina lalu terbangun dan membuka sedikit matanya, ia lalu menoreh ke arahku dengan senyuman.
.
Dinandra Yunita
.
“eh udah bangun kamu” ucap Kak Dina lemas dan mengganti posisi rebahan menjadi duduk serta membetulkan roknya yang terbuka tadi.
.
Kak Dina lalu bangun dari sofanya lalu berjalan ke arahku, lalu ia duduk di pinggiran ranjang rumah sakit.
.
“gimana udah baikan kan?” tanga Kak Dina kembali.
.
“udah Kak” ucapku membalas senyuman Kak Dina.
.
“Kak, Kaka nggak kerja kah?” tanyaku kembali.
.
“Kaka udah izin, kan mau nemenin kamu, kesian kamu gak ada yang nemenin” ucap Kak Dina sambil tersenyum.
.
“aduh Kak gak papa aku kalo Kaka mau kerja” ucapku.
.
“ahh, sudah biarin aja gakpapa, udah di izinin juga kok, oh yah kamu laper nggak?” ucap Kak Dina.
.
“iya Kak hehe” tawaku menjawab.
.
“yaudah Kaka pesenin makan yah, kamu mau apa?” tanya Kak Dina kembali.
.
“hmmm terserah aja Kak apa yang ada” jawabku pasrah.
.
“yasudah Kaka pesenin yah” ucap Kak Dina lalu mengambil sebuah telefon rumah sakit dan menelpon resepsionis VVIP.
.
“Halo, saya mau pesen sarapan, ada tersedia apa aja yah” ucap Kak Dina sambil menelfon.
.
“oh kalo gitu saya pesen ikan bakarnya satu sama sup ikan tunanya yah” ucap Kak Dina sambil menelfon.
.
“minumnya…… sebentar, kamu mau apa Anton minumnya?” tanya Kak Dina.
.
“air mineral aja Kak” jawabku.
.
“minumnya air mineral satu sama teh hangat satu” jawab kak Dina sambil mengacungkan jarinya angka satu.
.
“baik ditunggu” ucap Kak Dina lalu menutup telfonnya.
.
Kak Dina lalu kembali ke Sofa dan membuka laptopnya, aku lalu meminta tolong kepada Kak Dina untuk mengambilkan Handphoneku, Kak Dina lalu mengambilkannya, akupun membuka handphone dan membuka aplikasi TikTod, aku mulai membaca sebuah berita dimana sekelompok ojol mendatangi sebuah rumah, dimana ojol kesal karna salah satu anggotanya di caci maki dan diberi perlakuan kasar dengan pacarnya oleh sang pelaku, dimana pelaku tak terima lantaran makanannya telat di antarkan 5 menit.
setelah melihat isi berita aku kembali menscrol Tiktod dan aku menemukan Tiktodnya Husna Amira lagi berjoget menggunakan baju sekolahnya.
dia sangat cantik, aku sangat terkagum kagum dengannya, akupun lalu membuka akunnya dan langsung follow akun Tiktodnya. sembari melihat konten konten Husna Amira, makanan aku dan Kak Dina datang yang dibawakan oleh seorang suster rumah sakit.
.
Suster
.
“Anton makananmu dateng” ucap Kak Dina
.
akupun menghentikan aplikasi Tiktod ku dan menaruhnya di samping. suster lalu meletakkan semua makanan dan minuman itu di meja, setelah selesai suser juga memberikan ku sebuah Obat.
.
” ini untuk Kak Anton diminum obatnya yah, untuk waktu minumnya 1 kali sehari dan diminum setelah sarapan yah” ucap Dokter lalu menaruh obat kapsul itu di atas meja.
.
“satu itu aja yah Dok?” tanya Kak Dina kepada suster.
.
“iya Bu satu ini aja, oh iya hampir lupa, untuk efek sampingnya ini membuat ereksi di bagian intim, jadi di batasi untuk pemakaiannya yah” ucap Suster.
.
sontak kalimat suster itu membuat kami kebingungan namun tak kamj hiraukan, kamudian suster pamit keluar, Kak Dina lalu menaikan senderan ranjang untuk membantu makan dan kembali menyuapiku.
kami bercanda soal obat yang bisa bikin ereksi tertawa bersama membuatku teringat dimasa lalu saat masih di kampung. setelah selesai makan Kak Dina juga membantuku minum obat.
.
“nih minum obatnya hati hati ngacengan hahahaha” tawa Kak Dina bercanda kepadaku.
.
“hahaha kalo ngaceng tinggal keluarin” ucapku menjawab candaan Kak Dina.
.
” hahaha, coba aaaaa” ucap kak Dina menyuruhku buka mulut.
.
akupun buka mulut dan minum obat dengan air mineral, setelah selesai akupun kembali buka Tiktod dan Kak Dina melanjutkan kembali kerjaannya.
di saat aku tengah melihat konten Dedy Kobotak, aku merasakan hal aneh di selangkanganku, kontolku semakit tegak dan gairah sexku muncul dengan cepatnya. akupun langsung memanggil Kak Dina.
.
“Kak Dina Kak” ucapku sedikit panik.
.
“ya Anton kenapa?” ucap Kak Dina.
.
“Kak, coba deh kesini” Ucapku sambil melambaikan tangan sebelah kanan.
.
saat Kak Dina berjalan ke arahku tiba tiba ia terkejut melihat celana ku yang kontolnya sudah berdiri tegak. dia terheran heran, berati benar apa kata suster tadi bahwa efek samping obat ini membuat ereksi.
.
“ya ampun Anton beneran itu?” ucap Kak Dina tercengang dengan menatap ke arah celanaku.
.
“aduh kak tolong bukain kak soalnya sesak” ucapku kesakitan karna sesak, sebab aku tak ganti celana dari kemarin dan masih memakai celana dalam yang ketat.
.
dengan ragu Kak Dina lalu membuka celanaku beserta celana dalamku, Kontolku mengacung tegak kuat dimana ku rasa ukuran kontolku juga sedikit membesar, Kak Dina hanya melirik sedikit, ia lalu meloloskan celana dan CD ku hingga lepas dari kaki.
.
“astaga Anton” ucap Kak Dina menutup mulutnya duduk di pinggiran ranjang rumah sakit.
.
“gimana dong Kak?” ucapku tak tahan dengan nafsuku.
.
“haduh, ehmmm Kaka panggilin suster dulu yah” ucapnya ingin memencet tombol, namun bisa aku cegah.
.
“ehhhh Kak Kak jangan dong” ucapku panik sekaligus nafsu.
.
“lah kenapa?” ucap Kakaku dengan tangannya sudah hampir memencet tombol.
.
“ehmm malu tahu Kak aku gini diliatin orang, masa Kaka tega” ucapku beralasan
.
“hmm iya sih, terus gimana dong keadaan kamu kaya gini?” tanya Kak Dina.
.
“ehmmm, biasanya sih aku kocok sampai keluar, tapi kan aku lagi gak bisa kak, tangan kanan patah, tangan kiri lagi di infus” ucapku
.
“lah terus siapa yang kocokin?” ucap Kak Dina mulai gugub
.
“masa ku minta sama suster?” ucapku mengambil kesempatan untuk minta dikocokin tangan mulus Kak Dina.
.
“ehhh i i iya sih, jadi kamu minta….” ucap Kak Dina terhenti.
.
aku langsung menganggukan kepalaku tanda setuju dengan senyuman sedikit nakal. Kak Dina lalu diam sejenak diam sejenak sambil memandangi ku dan kadang melirik sebentar kontolku. cukup lama ia berpikir sambil menghela nafasnya sampai.
.
“hemmm ya ya oke Kaka kocokin” ucap Kak Dina sedikit terpaksa.
.
“yeeaahhhhh, mantep yaudah sekarang aja Kak” ucapku kegirangan.
.
“sebentar Kaka ambil tisu basah dulu” ujar Kak Dina sambil mangambil tisu basah dalam tasnya.
.
setelah dia dapat tisu basahnya Kak Dina lalu membuka bungkusannya, ia lalu melap tisu basah ke tangannya dan kontolku agar bersih.
.
“stttt ahhh” desahku keenakan.
.
“baru pake tisu basah aja udah gini kamu” ucap Kak Dina.
.
“hehehe maaf Kak, yaudah cepetan kocokin, gak kasian kah sama adeknya” ucapku dengan nada memelas.
.
“iya iya Kaka kocokin, tapi ini kaka kocokin buat bantu kamu lagi sakit yah bukan macem macem” ucap Kak Dina memastikan.
.
“iyaa Kak ayo cepet” ucapku tak sabar.
.
Kak Dina lalu pelan pelan mengocok kontolku dengan tangan kiri lembutnya itu, rasa nikmat dari tangan Kakaku itu sangat tak bisa dijelaskan dengan kata kata, lebih nikmat dari mengocok sendiri. rasa yang tak pernah aku rasakan, rasa nikmat ini membuat aku memejamkan mataku dan mendesah dengan khushuk.
.
Dinandra Yunita
.
“ahhhh ahhhh”
“ahhhh Kaakkkk”
“sttt ahhh terus Kak”
“ahhh lembut banget Kak terus”
“ahhh ahhh ahhhh”
desahku tiada henti dalam kocokan Kak Dina.
.
aku melirik sedikit wajah Kak Dina, dia hanya diam menatap ku keenakan. dalam diamnya aku bertanya sesuatu.
.
“ahhh Kakk, ughhh lebih gede punya aku atau Bang Ferr kak?” tanyaku membuat dia berhenti mengocok.
.
kulihat Kak Dina kebingungan bagaimana cara jawabnya.
.
“ahhh maksud kamu apa sih, udah diem aja” ucap Kak Dina.
.
“ahhh ughhh kan, aku pengen tau Kak” ucapku pada Kak Dina yang sedang mendesah keenakan.
.
“ehmmm kayanya punya kamu deh” ucap Kak Dina sambil melihat kontolku ditengah kocokannya.
.
“ohh gitu yah kak, ehhmm ahhh ohhh” jawabku sambil mendesah.
.
“emang ahhhh ughhh ukuran punya Bang Ferr kalo tegak stttt ahhh segimana punyaku?” tanyaku kembali.
.
” ehmmmm segini paling” ucap Kak Dina lalu mengarahkan jempolnya ke arah setengah kontolku.
.
“ehhmm ohhhh ahhh ehhh oh yahhh Kak, ahhhh gede donghhhh punya ku?” ucapku ke Kak Dina.
.
“iya gede, kayanya kontol kamu paling gede dari kontol yang pernah kaka lihat” ucap Kak Dina keceplosan
.
“ahhh ohhh emang kontol siapa lagi Kak yang Kaka lihat?” tanyaku memancing.
.
“ahh nggak maksudnya selain punya Bang Ferr punya kamu paling gede, gi gi gitu” ucap Kak Dina gugub.
.
“ohhh iyahhh ahh terusin Kak ahh ahhh” desahku.
.
cukup lama Kak Dina mengocok kontolku sampai dia terlihat kecapean.
.
“kamu lama banget sih keluarnya, cepetan ahhh” ucap Kak Dina mulai kesal.
.
“ahhh uhhhh pakai air liur Kaka dong biar licin” ucapku.
.
“ya ampun, iya pakai liur nih” ucap Kak Dina lalu berdiri sedikit dan menunduk di atad kontolku, lalu ia meludah di kepala kontolku.
.
“ahhhh enak banget Kak ahhh ahhh” desahku tambah gak karuan.
.
“suka gak kamu?” tanya Kak Dina.
.
“ahhh uhhb sttttt suka banget Kak ahhhhh, tangan Kaka lembutttt ahhh uhhhh Kak cepetan lagi keluarnya aku mau crot Kakkk” ucapku tak mampu menahan puncak klimaks.
.
Kak Dina lalu mempercepat kocokannya padaku dan aku makin keras mendesah.
.
“ahhb ahhh ohhhh”
“Kak ahhh Kak Dinaaaa”
“aku keluaaarr ahhh ughhh eghhhhhh ahhhh”
crot crot croooot 


.
muncratan pejuku cukup tinggi sampai mengenai sedikit hijab yang iya kenakan, lelehan peju keluar dari kontolku membuat tangan Kak Dina yang sedang mengenggam kontolku berlelehan peju. Kak Dina lalu mengambil tisu kering dan melapkannya ke kontolku dan tangannya ia juga melap sisa lelehan di hijabnya.
.
“banyak banget kamu keluarnya?” ucap Kak Dina sambil melap tangannya dengan tisu.
.
“hehehe enak soalnya tangan Kak Dina lembut” ujarku dengan senang dan senyuman.
.
Kak Dina hanya diam dan ia langsung membuka bajuku.
.
“kamu sekalian ganti baju yah” ucap Kak Dina membantuku melepaskan bajuku.
.
setelah aku bugil, Kak Dina lalu melap badanku dengan handuk basah, ia sangat telaten merawatku. setelah selesai aku langsung di bantu untuk memakai pakianku kembali, mulai dari baju hingga celana pendek. sudah selesai Kak Dina lalu kembali ke depan laptopnya sementara aku masih tersenyum membayangkan hal tadi.
tak lama kemudian dokter masuk masuk untuk mencek keadaanku.
.
Dokter
.
“selamat siang Bu Dina dan Kak Anton” salam Dokter dengan ramah diikuti oleh 1 orang suster.
.
“siang Dok” jawabku dan Kak Dina berbarengan.
.
“ehmm bagaimana keadaan Kak Anton udah baikan, atau ada gejala lain?” tanya Dokter sambil mengecek tanganku yang ratak.
.
“udah mendingan Dok, udah gak sakit juga” jawabku.
.
” syukurlah, sepertinya pergelangan kamu cukup baik dan sembuh dengan cepat, nanti kita lihat esok yah kalo udah sehat bisa langsung pulang besok” ucap Dokter.
.
“oh iyakah Dok, syukurlah” ucap Kak Dina senang.
.
“iya Bu, saya pamit dulu yah, untuk mengecek pasian lain, mariii” ucap Dokter menunjukan tanda salam.
.
“mari Dok” jawab Kakaku.
.
setelah Dokter keluar aku dan Kak Dina mulai lapar, karna memang waktu sudah menunjukan makan siang, ia lalu memesan makanan dari resepsionis, tak banyak bicara mungkin karna canggung akibat kejadian tadi sehingga saat makanan diantarkan salah satu suster kami masih diam. Kak Dina lalu kembali membantuku makan, kami benar benar diam, aku juga sedikit tidak enak sama Kak Dina, hanya gara gara nafsuku aku rela membuat hubungan kami Akward, hinga makan sudah selasai tiba tiba ada telfon masuk. aku bertanya diapa yang nelfon, Kak Dina hanya menjawab dari kantor. sehingga ia manganggkat telfonnya dan aku lanjut tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
” Ton, Anton bangun” suara Kak Dina lembut membangunkan ku.
.
“ahh ehmmm iya Kak?” tanyaku sambil melirik jam.
.
“bangun udah makan malam, ayuk makan” ucap Kak Dina.
.
” ohhh ehmmm iya Kak” jawabku mengumpulkan nyawa.
.
Kak Dina lalu membantuku menaikan senderan ranjang rumah sakit, iya juga lagi lagi membantuku menyuapiku, namun aku tidak selera saat melihat soup tuna itu lagi.
.
“Kak, maaf yah aku bosen makan tuna lagi” ucapku.
.
“yah Kaka udah pesenin kamu ini” ucap Kak Dina kecewa.
.
“yaudah gak usah Kak gak papa, aku juga masih kenyang” ucapku beralasan karna memang masih kenyang.
.
“Anton, kamu harus makan biar cepet sembuh” ucap Kak Dina.
.
“tapi aku gak selera Kak makan itu, masa sarapan itu, siang itu lagi masa malam itu lagi” ucapku.
.
“hmmm yasudah apa yang bisa kaka lakuin biar kamu mau makan?” tanya Kak Dina.
.
mendengar kalimat itu membuat otak cabulku kembali, aku mendapatkan ide yang sangat jenius.
.
“serius Kak hehe, ehmm mau di kocokin lagi” ucapku sehingga membuat Kak Dina kaget.
.
“astaga Anton kamu ih, masa minta dikocokin lagi, kan siang tadi udah”
.
“aku gak mau makan kalo Kaka gak mau kocokin aku” ucapku sambil memutar kepalaku ke arah berlawanan.
.
“astaga, iya Anton iya Kaka kocokin, asal kamu makan dulu yah, habis makan baru Kaka kocokin” ucap Kakaku sedikit kesal.
.
“heheh makasih Kak” ucapku senang bukan main.
.
lalu aku makan dengan sangat lahap, dipikiranku hanya tangan Kak Dina yang kocokin aku. rasa nikmat itu kembali akan kurasakan muahahahahah. pikirku dalam otak.
setelah selesai makan aku langsung meminta Kak Dina mengocok kontolku.
.
“ayo Kak kocokin” ucapku dengan semangat.
.
“iya iya sebentar Kaka cari dulu tisu basah, haduh kayanya habis tisu basahnya” ucap Kak Dina mencari tisu basah didalam tasnya.
.
“gak papa kak, gak usah pake tisu basah, ayooo” ucapku tak sabar.
.
lalu Kak Dina kembali ke seblahku duduk disamping ranjang rumah sakit. lalu dengan pelan Kak Dina membuka celanaku sampai paha, langsung saja kontoku tak terhalang apapun dengan keaadan masih lemas.
.
Dinandra Yunita
.
“tuh dek gak tegak, emang masih kuat?” tanya Kak Dina.
.
“heeehhh pegang dulu Kak” ucapku.
.
lalu Kak Dina pelan pelan menyentuh kontolku, ia lalu memutar mutar kontolku dengan tangan kirinya sehingga kontolku mulai membesar dan tegak, Kak Dina terkejut mungkin kontolku tegak sangat cepat. tanpa basa basi Kak Dina lalu mengocok kontolku dengan nikmat.
.
“ahhh ooohhh sttt”
“uhhhh ahhh Kakkk ohhhhh”
“mantep mantep banget kocokan kaka”
desahku tak karuan akibat di kocok tangan Kak Dina yang mulus dan lembut.
.
cukup lama Kak Dina mengocokanku, dan saat itu telfon dari handphone Kak Dina berbunyi Kak Dina lalu menghentikan kocokannya di kontolku dan mengambil handphone di dalam tasnya. ternyata Bang Ferr yang ingin melakukan Vidio Call, Kak Dina awalnya ragu untuk mengakat namun atas bujukku ia mengangkat Vidio Call itu. aku juga mengkode Kak Dina untuk terus mengocok kontolku di tengah VC an dengan suaminya Bang Ferr..
Fery Atmaja

.
“halooo” ucap Bang Ferr di telfon.
.
“halo sayaang lagi dimana kamu?” tanya Kak Dina sambil VC di tangan kanannya dan tangan kirinya mengocok kontolku.
.
“aku lagi di cafe demaga sayang, lagi di Italy nohh” ucap Bang Ferr.
.
“wow kapan kapan ajak aku ya mass kesana” jawab Kak Dina dengan senyuman.
.
“nanti deh akhir tahun kita ke Italy bertiga, eh gimana kabar Anton?” tanya Bang Ferr ingin mengetahuin kondisiku.
.
mendengar ucapan dari Bang Ferr aku kaget dan mengkode Kak Dina untuk berhenti sebentar dari kocokannya. namun Kak Dina tidak menggubris malah ia mempercepat kocokannya sehingga membuatku kalang kabut menahan desahan. Kak Dina lalu memutar kamera VC dari kamera depan ke belakang.
.
“nih orangnya lagi sakit hihihi” ucapan Kak Dina sedikit menggodaku.
.
“wahhh Anton gimana kabar kamu sekarang?” ucap Bang ferr.
.
“ehhhmmm akuhh baik baik ajahhh Bang, Bang Ferhh gimana?” jawabku memcoba menahan desahanku.
.
“baik baik anton kok kamu kek kesakitan gitu kenapa?” tanya Bang Ferr curiga.
.
“emhhh ehhh akuuuhh gak papa Bang, lagi meringis aja sakit ahhh tangan” ucapku beralasan.
.
“hahaha paling juga sembuh besok, yaudah Bunda aku lanjut lagi yah kayaknya bulan depan baru balik, soalnya mau ke inggris dulu” ucap Bang Ferr.
.
seketika Kak Dina kembali memutar VCnya dari kamera belakang ke kamera depan.
.
” oh iya Mass, hati hati yah” ucap Kak Dina sambil melirik nakal ke arahku.
.
“yasudah bye sayang muah love you” ucap Banh Ferr.
.
“Love you to Mass” ucap Kak Dina langsung mematikan VCnya.
.
tak lama kemudian
croooot croooot croootttt
pejuku berlumuran keluar dari kontolku, meskipun tak banyak seperti siang tadi namun aku sangat lega.
.
“aduh Kak dikit lagi ketahuan untung aku bisa tahan” ucapku agak ketus.
.
“hahaha biarin kamu sih minta kocok terus hihihi” tawa Kak Dina nakal.
.
aku hanya bisa geleng geleng kepala melihat reaksi Kak Dina. Kak Dina lalu melap tisu kering ke tangannya dan kontolku yang berlumuran peju. ia lalu menaikan kembali celanaku. Kak Dina lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih dan aku karna capek habis crot lalu aku memutuskan untuk tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
keesopan Paginya aku terbangun, lalu melihat jam dinding rumah sakit, Jam menunjukan pukul 08:22 aku lihat Kak Dina lagi membetulkan Jilbabnya di kaca kamar rumah sakit dengan baju dinasnya berwarna coklat..
Dinandra Yunita
.
disana juga aku melihat ada beberapa makanan yang sudah siap, nampaknya Kak Dina memesan makanan yang berbeda yaitu sekotak pizza besar dan lasgna. aku lalu memanggil Kak Dina.
.
“Kak” ucapku dengan lemas.
.
“nahhh akhirnya bangun ayo kita makan terus kamu minum obat” ucap Kak Dina sambil mebetulkan jilbabnya.
.
Kak Dina seperti biasa membantuku menaikan senderan ranjang rumah sakit lalu lanjut memberiku bongkahan besar pizza. dengan lahap aku makan pizza itu karna tak sabar untuk minta kocokin lagi sama Kak Dina. tiap potongan ku makan dengan cepat sampai pada potongan terakhir habis, aku kenyang bukan main. setelah itu Kak Dina memberiku obat yang sama.
.
“hmm Kaka sebenarnya males tau kasih obat ini, pasti kamu minta di kocokin lagi nanti” ucap Kak Dina agak terpaksa sambil memegang obat.
.
“hehehe tau aja Kaka, kan Kak Dina mau aku sembuh hehehe” tawa ku nakal.
.
“hmm yasudah ini yang terakhir yah… aaaaaa” ucap Kak Dina memberiku obat.
.
akupun minum obat itu dengan air mineral setelah itu.
.
“ayo Kak langsung aja kocok” ucapku tak sabar.
.
“ya nanti lah tunggu berdiri, Kaka mau selesain pekerjaan kantor dulu, soalnya nanti siang kaka mau meeting” ucap Kak Dina beralih dariku.
.
“yaaahhh” ucapku kecewa.
.
akupun lalu menscrol Tiktod untuk melihat kelucuan apa pagi ini. setelah lama menscrol Tiktod aku merasakan nafsuku mulai naik lalu ku rasakan kontolku bangkit dari tidurnya.
.
“Kak udah tegak nih” ucapku ke Kak Dina.
.
iya pun beranjak dari sofa dengan muka agak terpaksa dan menghela nafas. iya duduk disamping dan membuka celana ku sampai paha.
.
“waduh udah gede aja nih hihihi” tawa Kak Dina melihat Black Mamba gagah perkasa.
.
saat Kak Dina ingin menggenggam buah zakarku tiba tiba Dokter masuk sendirian, membuat aku dan Kak Dina kaget sehingga kami tak sempat menaikkan celanaku. terpampanglah kontolku dihadapannya.
.
“ahhh pagi Bu, Kak Anton” ucap Dokter dengan ramah.
.
“pa pa pagi Dok” jawab Kakaku dengan gugub.
.
“hahaha bangun aja tuh ular maaf udah dijelasin kan sama suster bahwa itu efek samping dari obat yang diberikan?” tanya Dokter kepada Kak Dina.
.
“i i iya Dok” jawab Kak Dina.
.
“itu gak papa hanya efek samping sementara, nanti juga rubuh lagi monasnya sebentar saya cek dulu yah Kak Anton” ucap Dokter minta izin.
.
aku hanya bisa menganggu dalam malu, dokter memeriksa kedaan lenganku dengan seksama.
.
“sepertinya Kak Anton sudah baikan, sudah bisa pulang pagi ini, Bu Dina bisa ke resepsionis depan yah untuk pelunasan” ucap Dokter setelah mengecek keadaanku.
.
“oh i i iya Dok” ucap Kak Dina lalu ikut bersama Dokter keluar dari kamar, meninggalkanku dengan keadaan setangah telanjang.
.
tak lama dari Kak Dina keluar datang seorang suster yang ingin melepaskan penyangga tangan..
Suster
.
“pemisi atas namaa haaaaa” ucap Suster itu terkejut.
.
“maaf sus, efek samping obat maaf” ucapku gugub.
.
“ehmm ehhh Kak Anton saya bantu lepasin penyangganya sebentar yah” ucap suster terus melirik kontolku.
.
saat itu otak sange ku yang masih sangat aktif memunculkan kembali ide cemerlang.
.
“ehmm tunggu sus” ucapku dengan nada agak keras sehingga suster terdiam.
.
“bantuin saya sebentar sus sebelum Kaka saya datang” ucapku karna gila sange.
.
“ehmm ta ta tapi” ucap suster gugub.
.
“mohon sus ayo cepet dari kemarin saya gini kesakitan, gak mungkin dong saya minta sama Kaka saya” ucapku beralasan.
.
“saya lepasin penyangganga nanti Kaka bisa onani sendiri yah” ucap suster menolak.
.
“ayo sus tolong, supaya cepet sus mohon” ucapku membujuk.
.
suster hanya diam memandangku ia lalu menggerakan tangannya dengan pelan ke arah kontolku.
.
“tapi mohon cepat yah Kak” ucap suster sambil mengocok kontolku.
.
“ahhh uhhhb iya sus ahhhh” ucapku keenakan saat suster mulai mengocok kontolku.
.
tangan suster mungkin tak selembut tanganku, namun kocokannya sungguh nikmat iya dengan telaten mengocok kontolku
.
“ahhh suss ahhh enaaaakk”
“ahhh ohhhh”
“hhmmmm”
“suster udah sering kah ngocokin pasien kok enak banget?” tanyaku.
.
namun suster hanya diam dan fokus pada kocokannya.
.
“ahhh ahhh ohhhh”
“nakal banget kamu sus ngocokin kontol pasien” racauku
.
“ahh suussss ahh keluar keluaaarrrrrr”
crooott crooooootttt
aku keluar dengan cepat karna rasa gugub dan enaknya kocokan suster.
.
suster dengan sigap melap dengan tisu kering kontolku dan tangannya dari lelehan peju. setelah selesai ia menarik kembali celanaku ke atas dan membantuku melepas penyangga tangan dan infus di kedua tanganku.
tak lama kemudian datang Kak Dina masuk ke dalam kamar rumah sakit, ku lihat mukanya keheranan posisi ku sudah tertutup dan kontolku tak tegap lagi, ia pun juga ikut beberes membersihkan perlangkapannya dan keperluanku. setelah suster selesai membantuku ia lalu berpamitan dengan Kak Dina, ku lihat Kak Dina tak membalas sapa’annya, mukanya rada kesal namun iya tetap diam. akupun lalu bangun berdiri dan Kak Dina menarikku keluar dari kamar rumah sakit. ia tak berbicara apapun dengan muka seperti itu, aku juga tak berani berbicara dengannya. kami lalu masuk mobil dan langsung pergi ke rumah Kak Dina, sepanjang perjalanan Kak Dina diam. aku coba mengajaknya berbicara namun Kak Dina tak membalasnya. mungkin masih kesal tapi aku bingung kesal karna apa.
lalu kami sampai rumah, Kak Dina langsung keluar dari mobil dan membuka pagar sendiri. lalu ia memanggil keluar mobil. ia juga memberiku kunci rumahnya dan langsung pergi begitu saja, aku bingung apa yang terjadi berdiri diam didepan rumah dengan pikiran yang kebingungan dengan tingkah Kak Dina tadi.
