Kakak Ku Diandra Yunita – Ep 2 – Rancangan Bisnis
Cerita Dewasa Daun Muda Indonesia
“Ayo bangun Anton bangun” Ucap Kak Dina membangunkanku sambil menggoyangkan badanku.
.
“hmmmm” balasku dengan menjauhkan tangannya dari badanku
.
“heh kamu Anton, ayo bangun udah jam berapa ini” Usaha Kak Dina membangunkanku.
.
“hmmm iyaa kaaakk, hoaaammmm” jawabku dengan sedikit membuka mata.
.
“ayo, bangun Anton udah pagi” Kata Kak Dina menjauh dariku lalu membuka horden jendela kamar.
.
hmmm terang banget Kak” ucapku sambil menutup silau cahaya matahari dengan tanganku.
.
“kan udah terang ini, ayo cepet bangun terus mandi kamu, masa kamu gak bangun adek kamu udah bangun hihihi” cekikikan Kak Dina menunjuk selangkanganku.
.
aku pun kaget lalu melihat ke arah celanaku, seperti biasa Black Mamba satu ini emang kalo pagi pasti sudah bangun, lebih pagi dari yang punya hahaha.
.
“ih kakak ni malu tau” ucapku langsung menutup selangkanganku dengan kedua tanganku.
.
“haha, ayo cepet mandi terus sarapan, kaka udah siapin” ucap Kak Dina sambil keluar dari kamarku.
.
akupun termenung sejenak memikirkan apa yang akan ku lakukan di hari ini, melamun dan sedikit memikirkan apakah aku salah telah berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan pindah ke kota ini. memikirkan hal tersebut cukup lama buang buang waktu, aku pun segera mengambil handuk dan langsung mandi di kamar mandi kamarku. setelah selesai mandi dan ganti baju akupun turun kebawah untuk sarapan, disana ada Bang Ferr dan Kak Dina lagi sarapan duduk bersebelahan. akupun menghampiri mereka dan duduk diseberang mereka, dengan sigap Kak Dina langsung memberikanku piring dan menuangkan Nasi Goreng untukku. akupun makan dengan lahap.
.
Fery Atmaja
.
“Bang Ferr kapan berangkat berlayar” tanyaku sambil mengunyah makanan.
.
“jam 9 an Ton, nanti dijemput sama jemputan Perusahaan” Kata Bang Ferr sambil meneguk makanan.
.
“nanti kamu bantuin Bang Ferr angkat koper yah Ton” Ucap Kak Dina.
.
“siap Kak, nanti semua Koper aku yang angkat haha” candaku di barengi dengan tawa Bang Ferr dan Kak Dina.
.
“pagi ini temen Abang akan dateng, namanya Pak Reza dia akan bantu kamu bikin usaha disini” ucap Bang Ferr.
.
“oh yah, makasih banyak lo Bang Ferr jadi enak hehehe” ucapku kembali bercanda dengan tawa.
.
“haha sama sama, biar usaha kamu cepet profit jadi kamu bisa lama tinggal disini, biar Kak Dina disini gak kesepian terus kalo Bang Ferr kerja berlayar, Iya kan Bunda?” ucap Bang Ferr sambil melap tisu dimulutnya.
.
“iya biar ada temen gak sendiri gitu” Ucap Kak Dina menjawab.
.
“sekali lagi makasih yah Bang” ucapku kembali berterima kasih.
.
“sama sama Anton, aku mau ke kamar dulu cek barang bawaan, Anton makan yang banyak yah” Ucap Bang Ferr sambil mencium kening Kak Dina dan pergi dari hadapan kami.
.
aku dan Kak Dina pun melanjutkan makan kami, kami berdua berbincang masalah kehidupan kami dulu didesa, mengingat masa itu sangat menyenangkan, sebelum ibu dan ayahku harus pergi lebih dulu karna kecelakaan tunggal. di saat itu aku dan Kak Dina tinggal terpisah, Kak Dina tinggal di kota sekarang dengan kakek dan nenek dari pihak Ibu, sedangkan aku ikut Paman dan Bibi di kota ku sebelumnya. yah gak usah di inget, toh sekarang kami berdua juga sudah bahagia, masa lalu adalah masa lalu jangan jadi pikiran yang mengganggu masa depan mu aseeekkkk.
setelah selesai makan Kak Dina lalu mencuci piring sedangkan aku ke kamar Bang Ferr untuk menolongnya membawa barang barang. lumayan banyak barang bawaan Bang Ferr, wajar melaut selama berbulan bulan memang harus punya persiapan yang ekstra. setelah semua koper aku taruh didepan teras aku pun duduk di halaman rumah dan merokok dengan santuynya disusul Bang Ferr yang juga keluar dari rumah.
.
“wih rokok nih bagi dong” ucap Bang Ferr meminta Rokokku.
.
“ambil aja Bang Ferr, semuanya juga boleh” Ucapku memberikan Kotak Rokok dan korek api.
.
“sebatang aja, kaka mu itu gak suka aku banyak banyak rokok, katanya kalo ciuman nanti bau samsu haha” canda Bang Ferr sambil menyalakan rokok ditangannya.
.
“hahaha iya juga yak” ucapku membalas candaan Bang Ferr.
.
sambil menunggu jemputan aku dan Bang Ferr merokok di teras rumah. tiba tiba datang Kak Dina membawakan Teh untuk kami berdua.
.
“sayang kok ngerokok sih” Ucap Kak Dina dengan nada sedikit kesal.
.
“gakpapa sayang, nemenin adikmu ini ngerokok iya nggak Ton” ucap Bang Ferr sambil menyenggol sikutnya ke badanku.
.
“hehe i i iya kak” ucapku agak gugub takut dimarahi.
.
“hmmm, kali ini aja yah gakpapa” ucap Kak Dina dengan sabar.
.
aku dan Bang Ferr menikmati suasana pagi komplek ini dengan nikmat, rokok ditangan, teh hangat di cangkir dan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak kurasakan begitu lama, sangat nikmat pagi itu jika dibayangkan. tak berapa lama datang jemputan Pak Ferr dengan mobil perusahaan, lantas aku segera membantu Bang Ferr membuat semua Koper dan perlengkapan kedalam mobil. sudah semua siap saatnya pamitan.
.
“bunda, aku pergi kerja dulu yah jaga diri kamu baik baik yah, ada Anton sekarang nemenin kamu, kalo perlu apa apa ke dia yah” ucap Bang ke Kak Dina.
.
“iya sayang siap, aman kok aku disini kaya biasa kamu tinggalin” ucap Kak Dina dengan nada sedikit sedih.
.
“Anton titip kaka mu yah, kalo bisa bantu pekerjaan rumah kakamu” ucap Bang Ferr kepadaku.
.
“siap Bang aman kok, aku jagain kaka Dina” ucapku sambil salim ke Bang Ferr.
.
“ada uang aku TF kerekening kamu, buat keperluan kamu, uang jajan, sama modal bisnis, gak banyak kok, moga cukup yah” kata Bang Ferr membuatku kaget.
.
“ahhh Bang, waduh Bang makasih banyak loh bang, gak usah gakpapa bang ya ampun” reaksiku sangat kaget.
.
“hahaha gak papa, dikit kok itu, yaudah aku pamit, jaga diri kalian berdua yah” Ucap Bang Ferr sambil naik kemobil dan dadah ke arah kami.
.
kami pun membalas lambaian tangan Bang Ferr.
.
“ayu Ton masuk, kamu cek di rekening mobile kamu berapa Bang Ferr kasih” ucap Kak Dina menyuruhku masuk.
.
aku dan Kak Dina pun masuk kerumah, aku langsung pergi ke kamar dan mengecek bank mobile di HP, dan tenyata Bang Ferr ngasih aku 150 juta. aku hanya bisa menganga dan tanganku bergetar, uang sebanyak ini mau bikin bisnis apa. itulah hal terbesit dipikiranku saat melihat rekening yang dikasih Bang Ferr kepadaku, sungguh orang yang sangat baik dan murah hati Bang Ferr. aku pun turun kebawah dan menemui Kak Dina untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Kak Dina pun memintaku untuk membersihkan halaman rumah yang berserakan sampah daun pohon, aku pun dengan semangat melaksanakan tugasku yang diberikan Kak Dina. cukup lama dan lumayan melelahkan akhirnya bersih halaman rumah dari sampah dan daun kering. akupun lalu duduk diteras rumah untuk melepaskan penatku. saat bersantai datang seseorang bapak bapak yang langsung masuk kehalam rumah, aku pun menghampiri bapak itu.
.
“ehhh nyari siapa yah Pak?” tanyaku penasaran.
.
“kamu pasti adek iparnya Bang Ferr?” tanya balik bapak bapak itu sambil melepaskan helmnya.
.
“iya bener pak, ada apa yah?” ucapku kembali bertanya.
.
“oh ya kenalin aku Reza temennya Kaka iparmu, yang mau bantu kamu bikin usaha” ucap Pak Reza dengan jempol dan senyumannya, memperlihatkan gigi emas yang berkilau.
.
Pak Reza
.
“oh Pak Reza, silahkan silahkan masuk dulu Pak” ucapku menawarkan Pak Reza masuk kerumah.
.
masuk kami berdua kedalam rumah, akupun mepersilahkan Pak Reza untuk duduk disofa.
.
“sebentar Pak Aku panggilin Kak Dina dulu” ucapku lalu beralih mencari Kak Dina.
.
“Kak, Pak Reza datang” ucapku menemukan Kak Dina lagi melap meja makan.
.
“oh iyakah” ucap Kak Dina langsung memasang jilbabnya dan cepat menemui Pak Reza di ruang tamu.
.
“eh Bang Reza udah sampe” ucap Kak Dina bersamalan dengan Pak Reza.
.
“iya Dek baru aja” Ucap Pak Reza membalas senyuman Kak Dina.
.
“Abang mau minum apa, biar adek siapin” ucap Kak Dina menawarkan.
.
“hahaha, terserah Dek Dina aja, mau langsung dari dada adek minumnya juga boleh haha” canda Pak Reza ke Kak Dina.
.
aku mendengar perkataan itu bingung sekaligus shok, kok bisa ada seseorang pria bisa melontarkan candaan mesum seperti itu kepada kakaku yang sudah bersuami, dan respon kakaku yang seperti biasa saja. kakakupun ke dapur untuk membuat kan Pak Reza minuman, aku pun segera kembali ke sofa untuk berbincang perkanalan pribadi masing masing, ternyata Pak Reza berumur 43 tahun, beliau seorang bisnisman yang sangat suksek, mempunyai 3 rumah makan yang cukuo ramai pembeli, dia juga punya Anak Namanya Emma Azalia yang sedang bersekolah kelas 2 SMA, setelah paus perkenalan diri kami langsung membahas tentang bisnis yang akan kami bangun. kakaku pun segera mengantarkan 2 gelas air dingin kepada kami, kami pun kembali dengan fokus membicarakan bisnis yang akan aku bangun. cukup lama kami berbincang aku mendengar sebuah ketokan dari luar, ternyata itu adalah Pak RT.
.
Pak RT

.
“halo, permisi” ucap Pak RT sambil mengetok pintu.
.
” oh iya ada apa Pak RT” ucapku dengan ramah.
.
“tadi katanya mbak Dina ada yang mau pipa yang bocor yah dibelakang, saya mau bantuin mbak buat benerin pipanya” ucap Pak RT dengan senyuman tipisnya.
.
“oh emhhh, sebentar Pak, setau saya nggak ada Pipa yang bocor deh” ucapku kebingungan.
.
“ada kemarin pas Kak Dina laporan di kamar eh maksudnya di rumah saya dia minta tolong buat bantu benerin pipanya” ucap Pak RT menjelaskan.
.
“oh gitu, sebentar yah Pak saya panggilin Kak Dina dulu” ucapku seraya menjauh dari Pak RT.
.
“ehhh nggak usah” ucap Pak RT sambil memegang tanganku untuk tidak pergi.
“saya langsung kebelakang saja, sudah biasa saya bantu mbak Dina jadi nggak apa apa saya langsung benerin aja, takutnya ganggu kaka kamu lagi aktivitas” ucap Pak RT membujukku untuk memepersilahkan dia masuk rumah.
.
“oh iya Pak yaudah gakpapa masuk aja, kalo ada sesuatu bisa panggil saya yah Pak” ucapku.
.
“hehehe makasih dek yah, bapak kedalam dulu hehehe” ucap Pak RT langsung buru buru masuk dan pergi kehalaman belakang.
.
akupun kembali beribincang dan merancang bisnin dengan Pak Reza, kemungkinan bisnis yang akan kami bangun adalah warung makan dan Warnet yang bersebelahan, dengan modal kecil dan tempat yang sudah ada bisa dijalankan dengan cukup mudah, rancangan bisnis itu kami berdua setujui dan akan kami siapkan dalam waktu dekat ini.
.
“ahhh akhirnya sudah selesai, aku mau pergi dulu ada urusan lain” ucap Pak Reza sambil berdiri dari sofa dan mengemasi barang barangnya.
.
“oh iya pak, sebentar Pak aku panggilin Kak Dina dulu yah” ucapku sambil mencari Kak Dina di sudut rumah.
.
tidak ada kutemukan kak Dina didalam rumah, kemana perginya Kak Dina dalam pikirku, akupun terbesit untuk mengecek halaman belakang rumah, siapa tau Kak Dina lagi sama Pak RT yang benerin Pipa yang bocor. aku pun lalu kebelakang mencark keberadaan Kak Dina. sesampainya di pintu menuju arah halaman belakang aku mendengar suara Kak Dina dan Pak RT yang agak membingungkan. aku pun berhenti dan menguping.
.
Dinandra Yunita
.
Pak RT
.
“ahh Pak jangan Pak ada adek saya jangan sekarang ahhh” suara Kak Dina seperti merintih.
.
“ahhh kamu wangi banget Mbak, gak papa sebentar aja Mbak main cepet ahhh empek dada mbak” ucap Pak RT seperti ingin melakukan sesuatu kepadaku.
.
akupun langsung memanggil Kak Dina.
.
“Kak, Kaka lagi ngapain sama Pak RT” munculku dari balik pintu.
.
bergegas Pak RT melepaskan pelukan dari belakang Kak Dina dan membetulkan celananya yang mulai turun, sementara Kak Dina membelakangi ku dan membetulkan daster serta jilbab yang ia pakai.
.
“kenapa Ton nyari kaka?” tanya kakaku sambil membelakangiku dan membenarkan sesuatu.
.
“itu Pak Reza mau pulang, mau pamitan kayanya” ucapku dengan peraaan bingung.
.
“tunggu sebentar yah” ucap Ka Dina masih memebetulkan kerudungnya.
.
“ahh saya pergi dulu yah mbak, masih belum puas benerin pipanya nanti saya balik lagi hehe, saya pergi dulu yah Dek Anton” ucap Pak RT pergi sambil membetulkan resleting celananya.
.
sudah siap Kak Dina dan aku ke ruang tengah untuk mengantarkan Pak Reza pulang, setelah berpamitan Pak Reza pun pergi dengan motornya. masih pensaran terbesit di pikiranku, apa yang dilakukan Kak Dina dan Pak RT tadi, apakah benar memperbaiki pipa atau jangan jangan…… ahh aku gak mau pikiran negatif aku harus tanya sama Kak Dina. akupun menghampiri Kak Dina yang sedang duduk di Sofa membaca majalah.
.
“ehmm Kak gimana tadi benerin pipanya udah selesai?” tanyaku penasaran
.
“ehmmmm” suara dari mulut kakaku sambil menggoyangkan kepalanya bertanda tidak.
.
“ohh, emang rusak apanya kak biar Anton bantu, Anton bisa kok perbaikin gituan, di kosan dulu Anton sering benerin pipa bocor” ucap ku sambil duduk di sofa di sebelah Kak Dina.
.
“ehmmm gimana yah, nggak papa adek gak perlu ada yang dibenerin kok, pipanya gak rusak” ucap Kak Dina sedikit gugub.
.
“loh kata Pak RT tadi ada pipa yang rusak?” kataku kembali bingun.
.
“hmmm udah kamu lupain aja yah” ucap Kak Dina tak menjawab pertanyaanku dan melanjutkan membaca majalah.
.
“hmmm iya kak, terus kaka tadi ngapain sama Pak RT, suara kaka sama Pak RT tadi seperti ada desahan, kaka gak kenapa kenapa kan?” ucapku dengan nada yang rendah takut buat Kakaku marah dengan kalimatku.
.
Kak Dina langsung terdiam, dia pun langusung mengahadap ke arahku dan memegang tangan ku.
.
Adek, apapun yang kamu lihat selama disini jangan beri tahu orang lain yah, apalagi sampai Abang Ferr tahu, lupain aja apa yang kamu lihat Kakak gak papa kok” ucap Kak Dina mengelus tanganku dan kepalaku, mencoba menenangkan ku dalam kebingungan.
.
“hmmm iya kak” ucapku membalas senyuman Kak Dina.
.
“yasudah ini udah mau siang, kamu beli Nasi padang depan yah, beli 2 porsi, kembaliannya buat kamu aja” ucap Kak Dina mengeluarkan uang 50.000 di saku dasternya.
.
akupun langsung pergi kedepan untuk membeli nasi padang.
